Mengapa Kilat Terlihat Lebih Dulu daripada Suara Petir?
- 29 Jul 2026 14:13 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Saat hujan disertai badai, masyarakat sering melihat kilatan cahaya di langit beberapa saat sebelum mendengar suara petir yang menggelegar. Fenomena tersebut kerap memunculkan pertanyaan, mengapa cahaya dan suara yang berasal dari peristiwa yang sama tidak sampai ke pengamat pada waktu yang bersamaan?
Peneliti di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kilat dan petir sebenarnya terjadi hampir bersamaan. Kilat merupakan cahaya yang dihasilkan dari pelepasan muatan listrik di atmosfer, sedangkan petir adalah suara yang timbul akibat pemanasan udara secara sangat cepat di sekitar jalur sambaran listrik tersebut.
Menurut BMKG, perbedaan waktu yang dirasakan masyarakat terjadi karena kecepatan cahaya jauh lebih besar dibandingkan kecepatan suara. Cahaya bergerak dengan kecepatan sekitar 300.000 kilometer per detik, sehingga kilatan dapat terlihat hampir seketika oleh mata manusia. Sebaliknya, suara di udara hanya merambat sekitar 343 meter per detik pada suhu sekitar 20 derajat Celsius, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai pendengar.
Semakin jauh lokasi sambaran petir, semakin lama jeda antara kilatan cahaya dan suara yang terdengar. Karena itu, masyarakat sering kali melihat kilat lebih dahulu, kemudian baru mendengar suara guntur beberapa detik setelahnya. Jeda tersebut dapat dimanfaatkan sebagai perkiraan kasar untuk mengetahui seberapa jauh badai berada dari lokasi pengamat.
Sebagai contoh, apabila suara petir terdengar sekitar tiga detik setelah kilatan terlihat, maka jarak sambaran petir diperkirakan sekitar satu kilometer dari lokasi pengamat. Perhitungan ini bersifat perkiraan karena kecepatan rambat suara dapat dipengaruhi oleh suhu, kelembapan, dan kondisi atmosfer.
Selain menghasilkan cahaya dan suara, sambaran petir juga membawa energi listrik yang sangat besar. Suhu pada jalur sambaran bahkan dapat mencapai puluhan ribu derajat Celsius, jauh lebih panas daripada permukaan Matahari. Pemanasan udara yang sangat cepat inilah yang menyebabkan udara mengembang secara tiba-tiba dan menghasilkan gelombang kejut yang kita dengar sebagai suara petir.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak berlindung di bawah pohon tinggi, berada di lapangan terbuka, atau menggunakan benda logam saat terjadi badai petir. Jika berada di luar ruangan, masyarakat dianjurkan segera mencari perlindungan di dalam bangunan atau kendaraan yang tertutup hingga cuaca kembali aman.
Bagi masyarakat yang sedang berada di rumah, para ahli menyarankan untuk mencabut peralatan elektronik yang tidak digunakan apabila terdapat potensi sambaran petir yang kuat. Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko kerusakan perangkat akibat lonjakan tegangan yang dapat terjadi ketika petir menyambar jaringan listrik di sekitar lokasi.
Fenomena kilat dan petir menjadi pengingat bahwa alam memiliki proses fisika yang luar biasa. Perbedaan kecepatan rambat cahaya dan suara menjelaskan mengapa kita selalu melihat kilatan lebih dahulu sebelum mendengar suara guntur, meskipun keduanya berasal dari peristiwa yang sama.
Dengan memahami penyebab ilmiah di balik fenomena tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga lebih waspada terhadap potensi bahaya badai petir. Mengikuti informasi cuaca dari BMKG serta menerapkan langkah-langkah keselamatan sederhana dapat membantu mengurangi risiko saat cuaca ekstrem terjadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....