Jangan Asal Klik, Link Palsu Masih Jadi Modus Penipuan Digital yang Marak Terjadi

  • 25 Jun 2026 18:13 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat menerima pesan berisi tautan atau link melalui aplikasi perpesanan, media sosial, maupun surat elektronik. Pasalnya, kasus penipuan digital yang memanfaatkan link palsu masih terus terjadi dan telah menyebabkan banyak korban mengalami kerugian finansial maupun kebocoran data pribadi.

Pelaku kejahatan siber biasanya menyamar sebagai lembaga resmi, perusahaan jasa pengiriman, perbankan, hingga instansi pemerintah. Mereka mengirimkan pesan yang terlihat meyakinkan dengan tujuan mengarahkan korban untuk mengklik tautan tertentu dan memasukkan data pribadi.

Pakar keamanan siber, Dr. Budi Santoso, menjelaskan bahwa

link palsu sering kali dibuat menyerupai alamat situs resmi sehingga sulit dikenali oleh masyarakat awam. Menurutnya, pelaku memanfaatkan rasa panik atau rasa penasaran korban agar segera membuka tautan tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.Modus yang sering digunakan antara lain pemberitahuan hadiah undian, akun yang akan diblokir, paket yang tertahan di jasa pengiriman, hingga informasi bantuan sosial. Setelah korban mengklik tautan tersebut, mereka biasanya diminta mengisi data pribadi seperti nomor telepon, alamat email, kata sandi, hingga informasi rekening bank.

Selain pencurian data, beberapa tautan berbahaya juga dapat menginstal perangkat lunak berbahaya atau malware pada ponsel dan komputer korban. Malware tersebut dapat digunakan untuk memantau aktivitas pengguna, mencuri data penting, bahkan mengambil alih akses perangkat secara jarak jauh.

Untuk menghindari risiko tersebut, masyarakat dianjurkan untuk selalu memeriksa alamat situs sebelum mengklik tautan yang diterima. Jika pesan mengatasnamakan suatu instansi atau perusahaan, pengguna sebaiknya melakukan verifikasi melalui kanal resmi yang tersedia.

Dr. Budi juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan membagikan kode OTP, PIN, maupun kata sandi kepada siapa pun. Informasi tersebut bersifat rahasia dan sering menjadi target utama pelaku kejahatan siber untuk mengakses akun korban.

Meningkatnya aktivitas digital di berbagai sektor menuntut masyarakat untuk memiliki literasi digital yang lebih baik. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan memahami berbagai modus penipuan yang berkembang, masyarakat dapat melindungi data pribadi serta terhindar dari kerugian akibat kejahatan siber.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....