Buku Fisik vs Buku Digital: Mana Pilihan Gen Z? Ini Kata Pustakawan USK

  • 24 Jun 2026 21:25 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID,Meulaboh – Di tengah gempuran era digital, eksistensi perpustakaan sering kali dipertanyakan. Benarkah ruang-ruang membaca kini mulai sepi karena semua informasi sudah ada di genggaman? Rabu,(25/6/2026).

Menjawab hal tersebut, Pustakawan UPT Perpustakaan dan E-Learning Universitas Syiah Kuala (USK), Fadhli, S.I.P., membagikan potret menarik tentang bagaimana perpustakaan modern berselancar di tengah perubahan zaman.

Menurut Fadhli, perpustakaan hari ini sama sekali tidak mati suri. Sebaliknya, perpustakaan justru tampil lebih keren dan adaptif.

"Perpustakaan sekarang telah beradaptasi penuh terhadap perkembangan teknologi dan perubahan kebiasaan masyarakat," ujar Fadhli saat diwawancarai oleh RRI, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan bahwa inovasi menjadi kunci utama untuk menarik minat pengunjung. Tidak hanya menyediakan ribuan koleksi digital yang bisa diakses kapan saja, perpustakaan modern kini juga bertransformasi menjadi ruang kreatif. Mulai dari penyediaan ruang diskusi yang estetis, studio multimedia, hingga layanan berbasis teknologi informasi seperti katalog online, peminjaman mandiri, dan reservasi buku secara daring (online). Bahkan, media sosial kini gencar digunakan sebagai alat promosi untuk merangkul generasi muda.

Digital Praktis, Fisik Tetap di Hati

Saat ditanya mengenai tren membaca generasi muda saat ini, Fadhli tidak menampik adanya kelonjakan peminat buku digital (e-book). Kemudahan membawa ratusan buku dalam satu perangkat gadget, harga yang relatif lebih murah, serta aksesibilitas yang tanpa batas menjadi alasan utama Gen Z memilih format digital.

Namun menariknya, tren ini tidak serta-merta membunuh keberadaan buku fisik.

"Penggunaan buku digital memang meningkat, namun bukan berarti buku fisik ditinggalkan," kata Fadhli.

Buku fisik, menurutnya, masih punya tempat spesial di hati generasi muda karena menawarkan pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh layar digital. Membaca buku fisik dinilai lebih nyaman untuk durasi yang lama, mengurangi kelelahan mata akibat sinar elektronik, memberikan pengalaman sensorik (seperti aroma kertas), serta membuat pembaca jauh lebih fokus dan santai.

"Karena alasan itulah, perpustakaan saat ini menjembatani kedua kebutuhan tersebut dengan menyediakan format digital maupun fisik," tambahnya.

Jangan Cuma Asal 'Scroll' di Media Sosial

Di akhir perbincangan, Fadhli menitipkan pesan penting bagi seluruh pendengar dan pembaca portal rri.co.id, khususnya para generasi muda. Di era di mana banjir informasi terjadi setiap detik, perpustakaan justru hadir sebagai penyaring (filter) informasi yang valid dan tepercaya.

"Dengan memanfaatkan perpustakaan, kita memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam dan akurat dibandingkan hanya mengandalkan informasi yang beredar di internet dan media sosial tanpa verifikasi yang jelas," tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali membangun kebiasaan membaca sejak dini demi mengasah daya berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan berkomunikasi. Dengan fasilitas lingkungan yang kini jauh lebih nyaman dan kondusif, perpustakaan siap menjadi rumah kedua untuk belajar dan berkarya.

"Mari kita manfaatkan perpustakaan dengan optimal, menjadikannya bagian dari gaya hidup sehari-hari, sehingga nantinya dapat melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter," tutup Fadhli.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....