Hoaks, Clickbait dan Ancaman AI Mengintai Netizen

  • 17 Feb 2026 21:06 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh: Arus informasi di media sosial kian tak terbendung. Di balik kemudahan akses, ancaman hoaks, clickbait, dan manipulasi konten berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan serius bagi netizen.

Dosen Teknologi Informasi Universitas Teuku Umar (UTU), Abdurrahman Ridho, menilai rendahnya literasi digital masih menjadi celah utama penyebaran informasi palsu. Hoaks, menurutnya bukan sekadar kabar bohong, tetapi dapat memicu keresahan sosial hingga perpecahan.

“Hoaks itu informasi palsu yang jika dibiarkan bisa menimbulkan huru-hara dan memecah belah masyarakat,” ujarnya dalam program edukasi literasi digital, selasa 10 Februari 2026.

Selain hoaks, fenomena clickbait juga menjadi sorotan. Clickbait memanfaatkan judul sensasional untuk memancing rasa penasaran pembaca. Praktik ini banyak digunakan di media sosial demi meningkatkan jumlah tayangan dan keuntungan finansial.

Secara teknis, clickbait tidak selalu salah. Dalam konteks positif, judul yang menarik dapat menjadi strategi komunikasi efektif selama isi konten tetap relevan dan faktual. Lanjut Ridho dalam praktiknya, banyak konten clickbait justru menyesatkan, bahkan mengarah pada penipuan digital dan tautan berbahaya yang mengancam keamanan perangkat pengguna.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi produksi konten, dari penyampaian informasi menuju perburuan atensi. Algoritma platform digital yang mengutamakan engagement memperparah situasi, karena konten provokatif lebih cepat tersebar dibandingkan klarifikasi.

Ridho menekankan pentingnya prinsip “3S” sebagai langkah mitigasi, yakni Sadari, Selidiki, dan Saring. Pengguna harus menyadari potensi provokasi dalam judul, menyelidiki sumber dan kredibilitas akun, serta menyaring sebelum membagikan informasi. Pemerintah juga telah menyediakan sejumlah kanal resmi pengecekan fakta untuk membantu masyarakat memverifikasi informasi.

Tantangan semakin kompleks dengan hadirnya teknologi AI. Saat ini, AI mampu menghasilkan video dan audio yang menyerupai manusia asli. Penyalahgunaan teknologi ini berpotensi memperkuat penyebaran disinformasi melalui konten manipulatif.

Beberapa indikator konten AI yang patut dicurigai antara lain gerakan tubuh yang tidak alami, sinkronisasi suara dan gerak bibir yang tidak presisi, serta pencahayaan yang tidak konsisten. Namun ia mengingatkan, kemampuan AI terus berkembang sehingga metode deteksi pun harus diperbarui secara berkala.

“Kita tidak bisa hanya reaktif. Harus ada kesiapan mitigasi sejak sekarang, karena teknologi ini akan semakin canggih,” katanya.

Di tengah era kecerdasan buatan, tanggung jawab moral pengguna internet menjadi kunci menjaga ruang digital tetap sehat dan produktif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....