Ampon Bang Dalami Kelangkaan Semen Aceh, Soroti Produksi hingga Disparitas Harga

  • 11 Agt 2026 14:52 WIB
  •  Meulaboh
Poin Utama
  • Anggota Komisi VII DPR RI H.T. Zulkarnaini menyoroti kelangkaan dan disparitas harga semen di sejumlah wilayah Aceh
  • Politisi Golkar ini meminta persoalan kelangkaan dan disparitas harga semen ditelusuri
  • Kondisi kelangkaan dan tinggi harga semen menghambat pembangunan dan pemulihan rumah masyarakat pascabencana

RRI.CO.ID, Meulaboh - Anggota Komisi VII DPR RI dari Daerah Pemilihan Aceh I, Drs. H.T. Zulkarnaini atau Ampon Bang, menyoroti kelangkaan dan disparitas harga semen di sejumlah wilayah Aceh. Ia meminta persoalan tersebut ditelusuri dari sisi produksi, stok, distribusi hingga pembentukan harga karena berdampak langsung terhadap pembangunan dan pemulihan rumah masyarakat pascabencana.

“Yang menjadi pertanyaan kita sederhana: Aceh memiliki produsen semen di Lhoknga, tetapi mengapa masyarakat di sejumlah daerah justru kesulitan mendapatkan semen dengan harga yang wajar? Ini yang harus diperjelas secara konkret dan objektif,” ujar Ampon Bang, dalam siaran pers diterima RRI.CO.ID, Selasa 11 Agustus 2026.

Ampon Bang mengatakan, Aceh memiliki produsen semen di Lhoknga sehingga kelangkaan dan tingginya harga semen di daerah perlu dijelaskan secara konkret. Menurutnya, keberadaan produsen lokal semestinya dapat membantu menjaga ketersediaan sekaligus membuat harga semen lebih terjangkau bagi masyarakat.

Politisi Partai Golkar ini menyebut informasi yang diterimanya menunjukkan harga semen ukuran 40 kilogram di sejumlah wilayah Aceh berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp85 ribu per sak, bahkan di beberapa daerah mencapai Rp90 ribu hingga Rp110 ribu per sak. Kondisi tersebut dinilai semakin membebani masyarakat yang sedang membangun maupun memperbaiki rumah setelah bencana hidrometeorologi pada akhir 2025.

Ampon Bang juga menyoroti informasi mengenai produksi PT Solusi Bangun Andalas yang disebut tidak mengalami penurunan dan bahkan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang diterimanya, produksi sekitar 3.700 ton per hari atau setara 92.500 sak, sementara kebutuhan Aceh diperkirakan mencapai 4.200 ton atau sekitar 105 ribu sak per hari.

“Kalau produksi tidak turun, maka kita harus mencari tahu di mana masalahnya. Apakah di stok, distribusi, alokasi pasokan, transportasi, jaringan distributor, atau justru pada struktur pembentukan harga,” tegasnya.

Menurutnya, terdapat indikasi kesenjangan sekitar 500 ton atau 12.500 sak semen per hari antara produksi dan kebutuhan Aceh. Kondisi tersebut perlu segera dipetakan agar pemerintah dan pihak terkait dapat mengetahui titik persoalan yang menyebabkan masyarakat kesulitan memperoleh semen.

Ampon Bang turut membandingkan harga semen di Aceh dengan Medan, Sumatera Utara, yang berdasarkan informasi diperolehnya berada pada kisaran Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per sak pada awal Agustus. Sementara itu, harga di sejumlah wilayah Aceh disebut mencapai Rp80 ribu hingga Rp110 ribu per sak.

“Ini harus dijelaskan secara ekonomi. Kita bukan daerah yang sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar, kita punya pabrik semen di Lhoknga,” katanya.

Ia menilai perbedaan harga tersebut perlu dikaji dari sisi rantai pasok karena Aceh memiliki fasilitas produksi semen sendiri. Menurutnya, jika produksi tersedia tetapi harga di tingkat masyarakat tetap tinggi, maka terdapat persoalan lain yang harus ditelusuri.

Dalam waktu dekat, Ampon Bang akan mendalami kapasitas produksi, stok, distribusi, alokasi pasokan antarkabupaten dan kota, serta struktur harga semen di Aceh. Ia juga akan melihat langkah perusahaan dalam memenuhi kesenjangan antara kebutuhan dan produksi yang ada.

“Saya tidak ingin persoalan ini terus berlarut. Kita ingin mendapatkan data, berapa produksinya, berapa stoknya, ke mana distribusinya, berapa harga dari pabrik sampai distributor dan pengecer, serta apa penyebab harga di Aceh bisa berbeda dengan Medan,” ujarnya.

Ia juga akan meminta penjelasan mengenai rencana penambahan pasokan dari luar Aceh dan peningkatan jam operasional terminal pengisian semen. Langkah tersebut dinilai perlu dievaluasi efektivitasnya agar tidak hanya menambah pasokan, tetapi benar-benar mampu mengatasi kelangkaan di tingkat masyarakat.

Ampon Bang menegaskan persoalan semen harus segera ditangani karena Aceh masih berada dalam fase pemulihan pascabencana. Menurutnya, kenaikan harga bahan bangunan dapat meningkatkan biaya pembangunan dan memperlambat rehabilitasi rumah masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat yang sudah terkena bencana kemudian harus menghadapi beban kedua berupa mahal dan langkanya bahan bangunan. Mereka sedang berusaha bangkit,” katanya.

Ia menilai ketersediaan semen merupakan bagian dari ketahanan pembangunan Aceh sehingga penyelesaiannya harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Tidak hanya produksi yang harus diperhatikan, tetapi juga pemerataan distribusi dan kewajaran harga sampai ke tangan masyarakat.

“Kita harus melihat persoalan ini dari hulu sampai hilir. Kalau produksinya cukup tetapi masyarakat tetap sulit mendapatkan semen, berarti ada persoalan yang harus ditemukan,” pungkas Ampon Bang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....