Balqis Taklukkan Gugup, Raih Emas Public Speaking di Malaysia
- 18 Sep 2026 23:29 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Gemetar, gugup, bahkan sempat merasa minder setelah melihat penampilan peserta lain. Itulah yang dirasakan Balqis Sabilah Musaddiq sebelum berdiri di depan juri dalam kompetisi Public Speaking internasional di Terengganu, Malaysia. Namun, kegugupan itu tidak menghentikannya hingga akhirnya medali emas berhasil dibawa pulang ke Aceh Barat.
Siswi MAN 1 Aceh Barat tersebut meraih gold medal kategori Public Speaking dalam ajang olimpiade internasional yang berlangsung pada 7–10 September 2026. Balqis menjadi salah satu dari tiga pelajar Aceh Barat yang meraih medali emas pada kompetisi tersebut.
Bagi Balqis, tantangan terbesar bukan sekadar menguasai materi. Justru keberanian mengendalikan rasa gugup menjadi ujian tersendiri.
Saat berada di ruang kompetisi, ia harus tampil menggunakan Bahasa Inggris di hadapan juri dan peserta dari berbagai negara. Peserta dari Indonesia bersaing dengan pelajar dari Malaysia, Thailand dan Kamboja.
“Sebenarnya nervous banget,” ujar Balqis saat menceritakan pengalamannya dalam program Sore Ceria RRI Meulaboh.
Kondisi semakin menantang karena pencahayaan proyektor di ruangan langsung mengarah ke matanya. Namun, Balqis berusaha mengingat pesan gurunya, Miss Indah dan Miss Fuji, agar tetap santai, memahami materi, serta mengatur napas sebelum tampil.
Ia kemudian mengawali penampilan dengan membaca Bismillah dan mencoba mengendalikan pikirannya.
Strategi sederhana itu membantunya menyelesaikan penampilan dengan baik. Balqis membawakan materi mengenai good governance dengan durasi sekitar empat menit 30 detik, sementara batas waktu yang diberikan mencapai lima menit.
Yang menarik, Balqis bukan peserta yang baru pertama kali mengenal kompetisi internasional. Ia sebelumnya pernah mengikuti kompetisi di Terengganu pada tahun sebelumnya. Namun, medali emas baru berhasil diraihnya pada keikutsertaan tahun ini.
“Kalau tahun lalu ikut juga di Terengganu. Baru ini yang dapat,” katanya.
Perjalanan menuju medali emas juga tidak lepas dari proses panjang. Balqis telah tertarik dengan Bahasa Inggris sejak kecil dan mulai semakin serius menekuninya ketika SMP. Ia bahkan menghabiskan waktu liburan selama sekitar satu bulan untuk belajar di Kampung Inggris, Jawa Timur, dan kembali mengikuti program serupa pada liburan berikutnya.
Namun, tantangan tidak berhenti pada kemampuan public speaking. Balqis kini duduk di kelas 12 sehingga harus membagi waktu antara persiapan kompetisi, pembelajaran sekolah, les, persiapan tes akademik dan rencana pendidikan lanjutan.
Ia mengakui pengaturan waktu menjadi salah satu tantangan terbesar selama proses persiapan. Meski demikian, Balqis berusaha menjalankan seluruh tanggung jawab tersebut secara teratur.
Saat kompetisi berlangsung, tantangan mental kembali muncul. Balqis tampil di posisi tengah sehingga sempat menyaksikan peserta lain yang menurutnya memiliki penampilan sangat bagus.
Situasi itu sempat membuatnya bertanya-tanya apakah dirinya mampu memberikan penampilan yang sama baiknya.
Namun, ia memilih mengubah fokus dari hasil menjadi proses.
“Enggak usah harapin menang kalah dulu. Lakuin saja yang terbaik,” ujarnya.
Strategi tersebut membantunya menghindari tekanan berlebihan. Ia memilih menyelesaikan apa yang telah dipersiapkan dan menyerahkan hasil akhirnya setelah kompetisi selesai.
Ketika pengumuman tiba, Balqis bahkan sempat tidak percaya namanya muncul sebagai peraih medali emas. Ia mengaku sengaja menyibukkan diri dengan ponsel agar tidak terlalu memikirkan hasil.
Saat namanya muncul di layar LED sebagai peraih gold medal, Balqis mengaku sempat bingung harus bereaksi seperti apa.
“Enggak tahu harus ngapain. Nge-blank,” katanya.
Medali emas tersebut menjadi buah dari perjalanan panjang Balqis dalam mengasah kemampuan Bahasa Inggris dan public speaking. Setelah pencapaian itu, ia masih memiliki target lain, termasuk rencana melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan mengikuti kompetisi berikutnya.
Bagi Balqis, pengalaman di Malaysia juga membawa pesan penting bagi pelajar lain. Kekalahan dalam sebuah kompetisi bukan alasan untuk berhenti mencoba karena hasil sebuah perjuangan tidak selalu langsung terlihat pada kesempatan pertama.
“Kalau misalnya next ada yang ikut lomba terus kalah, jangan pernah menyerah. Kita enggak tahu rezeki itu ke mana,” ujarnya.
Prestasi Balqis akhirnya bukan hanya tentang sebuah medali emas. Di baliknya ada proses belajar, keberanian menghadapi rasa gugup, kemampuan mengatur waktu dan kemauan untuk tetap tampil meski sempat merasa minder.
Dari Terengganu, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa panggung besar tidak selalu dimulai dengan rasa percaya diri yang sempurna. Terkadang, keberanian untuk tetap maju meski gugup justru menjadi langkah pertama menuju sebuah pencapaian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....