Syarhil Qur'an, Cara Santri Ruhul Qur'ani Dekat Dengan Al-Qur'an

  • 18 Sep 2026 22:58 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Bagi sebagian anak muda, Al-Qur'an mungkin terasa dekat hanya ketika dibaca. Namun bagi tiga santri Dayah Ruhul Qur'ani Meulaboh, kedekatan dengan Al-Qur'an juga tumbuh lewat proses memahami, menyampaikan, dan menghidupkan pesan ayat di hadapan orang lain.

Hal itu mereka tunjukkan melalui Musabaqah Syarhil Qur'an (MSQ). Tim yang terdiri dari Dea Safitri sebagai sari tilawah, Cut Syifa Nabila sebagai pensyarah, dan Putro Cut sebagai tilawah berhasil meraih Juara I tingkat Madrasah Aliyah dalam ajang Inspiring Tahfidz Qur'an and Science (ITQAN) II di Aceh Selatan.

Syarhil Qur'an sendiri merupakan bentuk penyampaian pesan-pesan Al-Qur'an secara lisan yang memadukan tiga peran, yakni pensyarah yang menjelaskan isi atau kandungan ayat, tilawah sebagai pembaca ayat Al-Qur'an, serta sari tilawah yang menyampaikan terjemahannya. Ketiganya harus tampil selaras agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

Bagi Dea, Syifa, dan Putro, Syarhil Qur'an bukan sekadar perlombaan. Proses mempersiapkan diri justru menjadi ruang bagi mereka untuk semakin mengenal makna Al-Qur'an dan belajar menyampaikannya dengan cara yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

"Di Syarhil ini kita menjelaskan bukan monoton, bukan yang baku banget. Kita sampaikan secara santai yang enak didengar dan seru," kata Dea saat berbincang dalam program Sore Ceria Pro 2 RRI Meulaboh.

Menurut Dea, penyampaian Syarhil Qur'an memiliki keunikan karena tidak hanya mengandalkan materi, tetapi juga permainan nada, retorika, dan cara menyampaikan pesan. Hal itu membuat pembahasan mengenai Al-Qur'an dapat terasa lebih komunikatif bagi anak muda.

Dalam tim tersebut, masing-masing santri memiliki peran berbeda. Dea bertugas sebagai sari tilawah, yaitu menyampaikan terjemahan atau makna ayat. Cut Syifa Nabila menjadi pensyarah yang menjelaskan isi dan pesan yang ingin disampaikan. Sementara Putro Cut bertugas sebagai tilawah yang melantunkan ayat Al-Qur'an.

Syifa menjelaskan, peran pensyarah membuatnya harus mampu menghubungkan kandungan Al-Qur'an dengan persoalan yang relevan dengan kehidupan saat ini.

"Syarhil ini menjelaskan lebih detail. Masalah yang sedang panas biasanya dijadikan judul, kemudian di dalam Al-Qur'an ada solusinya. Kami menjelaskan apa solusinya, apa ayatnya, dan apa hadisnya," ujar Syifa.

Dari proses tersebut, Syifa justru menemukan pengalaman penting bahwa pesan Al-Qur'an tetap dapat dikaitkan dengan berbagai persoalan kehidupan generasi muda.

Menurutnya, hal itu membuat dirinya semakin tertarik memahami kandungan Al-Qur'an, bukan hanya membaca ayatnya.

"Al-Qur'an itu enggak pernah kehilangan relevansinya," katanya.

Bagi ketiga santri tersebut, prestasi di bidang keagamaan juga menjadi salah satu cara membuktikan bahwa generasi muda dapat tetap aktif mengembangkan diri tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur'an.

Mereka bahkan dijadwalkan kembali mengikuti kompetisi Syarhil Qur'an di Banda Aceh melalui ajang Riap Fair. Persiapan dilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara latihan, pembelajaran, dan waktu istirahat.

Pengalaman mengikuti Syarhil Qur'an juga membuat mereka memiliki cara tersendiri untuk mengajak generasi muda lebih dekat dengan Al-Qur'an. Dea menilai anak muda tidak harus langsung memahami semuanya dalam satu waktu. Ketertarikan dapat dimulai dari cara yang sederhana dan menyenangkan.

Sementara Syifa mengajak anak muda untuk tidak sekadar membaca Al-Qur'an, tetapi juga berusaha memahami pesan yang terkandung di dalamnya.

"Kadang ada orang yang baca saja tapi enggak mau memahami artinya. Kalau dari Syarhil mungkin jadinya lebih tertarik, enggak bosan," tutur Syifa.

Bagi mereka, Syarhil Qur'an akhirnya menjadi lebih dari sekadar cabang perlombaan. Ia menjadi cara untuk belajar memahami kandungan Al-Qur'an, melatih keberanian berbicara, membangun kerja sama, sekaligus menyampaikan pesan keagamaan dengan bahasa yang dapat diterima generasi muda.

Prestasi Dea, Syifa, dan Putro menunjukkan bahwa kedekatan dengan Al-Qur'an dapat dibangun melalui banyak jalan. Bagi mereka, membaca, memahami, menyampaikan, dan mengamalkan pesan Al-Qur'an menjadi bagian dari proses tumbuh sebagai generasi muda yang aktif, berprestasi, dan tetap memiliki nilai-nilai Qur'ani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....