Mengapa Judi Online Bikin Ketagihan? Ini Alasannya
- 23 Jul 2026 12:46 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh– Judi online dinilai memiliki risiko tinggi menyebabkan kecanduan karena memengaruhi sistem penghargaan (reward system) di otak. Kemudahan akses melalui ponsel, permainan yang berlangsung cepat, serta pola hadiah yang tidak dapat diprediksi menjadi faktor yang membuat pemain sulit berhenti.
Mengutip laman The Academic pada Kamis, 23 Juli 2026, masalah dengan perjudian mulai muncul ketika aktivitas ini berubah dari aktivitas yang menyenangkan menjadi kecanduan dan gangguan. Seseorang yang kecanduan judi harus berulang kali berjudi untuk mencapai rasa puas melalui pelepasan dopamin.
Dengan kata lain, cara perjudian mempengaruhi otak sama dengan penggunaan narkotika. Diperkirakan sekitar 0,2-5,3% orang dewasa di seluruh dunia menderita gangguan perjudian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengakui kecanduan judi sebagai sebuah gangguan.
Proses menjadi kecanduan terhadap sesuatu terjadi ketika seseorang berulang kali melatih otaknya untuk mendapatkan kepuasan dari suatu tindakan. Individu tersebut juga dapat menerima imbalan dari tindakan tersebut, seperti dalam kasus perjudian, di mana seseorang dapat melipatgandakan uang yang dipertaruhkan. Orang dengan penyakit mental yang menyertai atau gangguan penggunaan narkoba memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan perjudian yang berlebihan.
Menurut American Psychiatric Association, seseorang dengan gangguan perjudian perlu berjudi dengan jumlah yang semakin meningkat untuk mencapai kepuasan yang sama seperti sebelumnya. Orang tersebut akan merasa gelisah atau mudah tersinggung ketika mencoba untuk mengurangi atau berhenti berjudi, mirip dengan orang yang mengalami ketergantungan zat. Tanda-tanda lain dari gangguan ini termasuk pemikiran yang berlebihan tentang perjudian, kembali berjudi bahkan setelah kehilangan uang, dan upaya berulang kali dan tidak berhasil untuk berhenti berjudi.
Kecanduan judi adalah masalah psikologis, dan dari semua pihak yang terlibat dalam proses pengobatan, individu itu sendiri yang memainkan peran paling penting dalam pengobatan mereka sendiri. Hingga saat ini, belum ada obat yang ditemukan untuk mengobati gangguan ini, tetapi menggunakan konselor dan berbagai jenis terapi dapat membantu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....