Mengapa Orang yang Berbohong Sering Mengulanginya? Ini Penjelasan Psikologisnya

  • 22 Jul 2026 23:26 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh– Kebohongan sering kali dianggap sebagai tindakan sesaat untuk menghindari masalah. Namun, dalam banyak kasus, seseorang yang pernah berbohong justru cenderung mengulanginya.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan moral, tetapi juga berkaitan dengan cara kerja psikologis dan kebiasaan yang terbentuk. Melansir situs web Newport Institute pada Rabu, 22 Juli 2026, pola perilaku bohong berlebihan yang terus-menerus dilakukan, meluas, dan sering kali kompulsif sehingga berdampak pada kehidupan sosial dan tekanan yang nyata baik bagi diri sendiri maupun orang lain atau dikenal dengan istilah pathological liar.

Kondisi ini tidak hanya menyebabkan si pembohong untuk sering melakukan kebohongan, namun ada rasa terpaksa untuk melakukannya. Kebohongan tersebut tidak dapat dihentikan sehingga menyebabkan tekanan psikologis yang membahayakan mereka.

Selain itu, seseorang yang telah berbohong sering kali harus menciptakan kebohongan baru untuk mempertahankan cerita sebelumnya. Kondisi ini dikenal sebagai snowball effect atau efek bola salju, di mana satu kebohongan berkembang menjadi rangkaian kebohongan lain agar terlihat konsisten.

Faktor lingkungan juga berperan besar. Apabila seseorang berada di lingkungan yang permisif terhadap kebohongan atau jarang menerima konsekuensi atas tindakannya, kecenderungan untuk mengulang perilaku tersebut menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, lingkungan yang menjunjung tinggi kejujuran dapat membantu membentuk kebiasaan berkata apa adanya.

Rasa takut juga menjadi alasan umum mengapa seseorang terus berbohong. Ketakutan akan dihukum, kehilangan kepercayaan, atau mengecewakan orang lain membuat sebagian orang memilih mempertahankan kebohongan daripada mengakui kesalahan. Padahal, semakin lama kebohongan dipertahankan, semakin sulit pula untuk mengakhirinya.

Meski demikian, tidak semua orang yang pernah berbohong akan menjadi pembohong kronis. Kesadaran diri, kemauan untuk bertanggung jawab, serta dukungan dari lingkungan menjadi faktor penting dalam menghentikan kebiasaan tersebut. Mengakui kesalahan sejak awal memang tidak selalu mudah, tetapi langkah itu dinilai lebih efektif untuk membangun kembali kepercayaan dibanding terus menutupi fakta dengan kebohongan baru.

Kepercayaan merupakan fondasi utama dalam setiap hubungan, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan. Sekali kepercayaan rusak akibat kebohongan yang berulang, proses untuk memulihkannya membutuhkan waktu, konsistensi, dan komitmen yang tidak sedikit.

Karena itu, membiasakan komunikasi yang jujur dan terbuka menjadi langkah penting untuk mencegah siklus kebohongan berulang. Kejujuran mungkin terasa sulit pada awalnya, tetapi dalam jangka panjang menjadi cara terbaik untuk menjaga hubungan yang sehat dan saling percaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....