Ponjria Ceritakan Perjalanan Raih Most Favorite Sony Indonesia

  • 09 Jul 2026 23:23 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh- Filmmaker dan konten kreator asal Aceh, Teuku Muhammad Hijria atau yang akrab disapa Ponjria, mengungkapkan keberhasilannya meraih penghargaan Most Favorite One Minute Film Competition by Sony Indonesia menjadi salah satu pencapaian yang paling berkesan dalam perjalanan kariernya sebagai pembuat film. Kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga memberinya pengalaman berharga dalam menyampaikan sebuah cerita secara efektif melalui film berdurasi satu menit.

Hal tersebut disampaikan Ponjria saat menjadi narasumber dalam Program Sore Ceria RRI Pro 2 Meulaboh, Kamis, 9 Juli 2026. Dalam dialog tersebut, ia menceritakan bahwa kompetisi yang diselenggarakan Sony Indonesia merupakan bagian dari kompetisi film tingkat internasional yang diselenggarakan di masing-masing negara. Ketika melihat informasi perlombaan tersebut, ia langsung tertarik untuk berpartisipasi karena bertepatan dengan momentum peringatan tsunami Aceh pada Desember.

"Dari situ saya kepikiran untuk mengangkat cerita tentang tsunami Aceh. Saya mulai menulis naskah, membuat storyboard atau shot list, lalu memproduksi film tersebut dan mengirimkannya ke kompetisi," ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam kompetisi tersebut bukan hanya menghasilkan gambar yang menarik, tetapi bagaimana merangkai sebuah cerita yang utuh hanya dalam waktu 60 detik. Ia harus memastikan alur cerita memiliki pembuka, konflik, penyelesaian, hingga pesan yang dapat dipahami penonton tanpa membuat mereka kehilangan fokus.

"Dalam satu menit itu harus ada prolog, masalah, solusi, sampai penyampaian pesannya. Ternyata satu menit itu sangat singkat untuk menceritakan sebuah peristiwa. Karena itu, pemilihan kata dan setiap adegan harus benar-benar dipikirkan agar penonton langsung memahami maksud dari film tersebut," tambahnya.

Untuk mendukung cerita yang diangkat, Ponjria memilih sejumlah lokasi yang memiliki keterkaitan dengan peristiwa tsunami Aceh. Proses pengambilan gambar dilakukan di Pantai Riting, Kabupaten Aceh Besar, kawasan Ulee Lheue, serta Lampulo, Banda Aceh. Beberapa lokasi tersebut dipilih karena masih menyimpan jejak dan suasana yang mampu memperkuat pesan visual dalam film.

Setelah melalui proses penilaian, film karya Ponjria berhasil meraih predikat Most Favorite dari peserta seluruh Indonesia. Namun, di balik pencapaian tersebut tersimpan pengalaman yang hingga kini masih dikenangnya.

Ponjria mengaku sempat menerima undangan menghadiri pemutaran film di Bioskop Grand Indonesia, Jakarta. Saat itu ia mengira undangan tersebut hanya ditujukan kepada seluruh peserta yang mengikuti kompetisi. Karena tidak mengetahui bahwa filmnya berhasil masuk 10 besar nasional, ia memutuskan untuk tidak menghadiri acara tersebut.

"Belakangan saya baru tahu ternyata film saya masuk 10 besar dan diputar di bioskop. Sampai sekarang saya masih merasa kehilangan kesempatan itu karena tidak datang," tambahnya.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting dalam perjalanan kariernya sebagai filmmaker. Menurut Ponjria, setiap kesempatan, sekecil apa pun, harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena dapat membuka peluang yang lebih besar di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....