"Manners Matter" ketika Kata Kasar Dianggap Keren

  • 28 Mei 2026 10:55 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - media sosial belakangan ini tengah dihebohkan oleh masifnya konten edukasi bertajuk "Manners Matter". Tren ini muncul sebagai reaksi terhadap berbagai fenomena sosial di ruang publik yang dinilai semakin mengabaikan adab dasar dan norma kesopanan.

Di era digital saat ini, batasan antara kejujuran dan sikap tidak sopan sering kali kabur. Banyak individu kerap melontarkan kata-kata kasar atau menyinggung dengan dalih "blak-blakan" atau "apa adanya". Padahal, manners matter (tata krama itu penting) merupakan pilar utama dalam membangun interaksi sosial yang sehat dan saling menghargai.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menjumpai individu yang mengabaikan etika dasar. Berikut adalah lima ciri utama seseorang yang dinilai tidak memiliki manners (tata krama) yang baik di tempat umum:

  1. Tidak Mengucapkan Kata Ajaib
    Orang yang kurang beretika sering lupa mengucapkan "tolong", "maaf", dan "terima kasih" saat meminta bantuan atau menerima kebaikan dari orang lain.


  2. Sering Memotong Pembicaraan
    Mereka kerap memonopoli percakapan atau memotong orang lain yang sedang berbicara, yang menunjukkan kurangnya sikap saling menghargai Etiquette Scholar.


  3. Kurang Empati terhadap Sekitar
    Contoh nyatanya termasuk berbicara dengan telepon genggam di ruang publik dengan volume keras atau membiarkan pintu tertutup di depan orang yang berjalan di belakangnya.


  4. Mengabaikan Atrean
    Menyerobot antrean atau tidak memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan (seperti lansia atau ibu hamil) di transportasi umum adalah tanda jelas minimnya tata krama.


  5. Merasa Paling Benar
    Cenderung sulit menerima kritik dan sering meremehkan pendapat orang lain, sehingga menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi sekitarnya.

Memiliki sifat yang terbuka memang bukan sebuah kesalahan, namun menjadikannya tameng untuk membenarkan ucapan yang kasar adalah bentuk manipulasi emosional. Seseorang yang berlindung di balik alasan "blak-blakan" sering kali mengabaikan perasaan lawan bicaranya.

Mereka lupa bahwa kebebasan dalam berekspresi tetap harus diimbangi dengan empati dan kesadaran situasi. Sopan santun bukanlah tanda kepalsuan, melainkan bentuk kecerdasan emosional untuk menjaga kenyamanan bersama.

Ketika seseorang terus-menerus menggunakan bahasa yang kasar dengan dalih kejujuran, hal ini justru menunjukkan kurangnya pengendalian diri dan rasa hormat terhadap orang lain. Kritik yang membangun atau kejujuran yang murni tetap bisa disampaikan dengan diksi yang baik tanpa harus merendahkan martabat orang lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....