Terjebak "FOMO", Gen Z Rentan Kehilangan Jati Diri dan Pendirian

  • 18 Apr 2026 13:20 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulanoh - Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO kini bukan sekadar tren sesaat, melainkan ancaman serius bagi keteguhan prinsip Generasi Z di Indonesia.

Dilansir RRI dari berbagai sumber, survei menunjukkan bahwa hampir 80% Gen Z mengalami FOMO secara rutin, yang memicu kecenderungan untuk selalu mengikuti arus tanpa memiliki pendirian yang kuat.

Media sosial seperti TikTok dan Instagram menjadi panggung utama di mana standar hidup "ideal" dipamerkan setiap detik. Para ahli menyebutkan bahwa paparan terus-menerus terhadap konten viral membuat Gen Z merasa harus selalu relevan.

Dampaknya, mereka sering mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang sedang populer, mulai dari gaya berpakaian, pilihan tempat nongkrong, hingga instrumen investasi kripto yang berisiko tinggi.

Dampak FOMO tidak hanya berhenti pada gaya hidup konsumtif. Beberapa temuan menunjukkan:

Gaya Hidup & Fashion

Gen Z sering memaksakan diri mengikuti gaya berpakaian atau tempat nongkrong yang sedang viral demi pengakuan sosial, bahkan jika itu bertentangan dengan kenyamanan diri atau kondisi finansial.

Kesehatan Mental & Kepercayaan Diri

Rasa takut ketinggalan ini memicu tingkat kecemasan tinggi (anxiety), insecure, dan menurunnya kepercayaan diri saat melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih menarik di media sosial.

Kesehatan Finansial

Dorongan FOMO mendorong sebagian Gen Z terjebak dalam gaya hidup doom spending (belanja untuk mengatasi stres) dan penggunaan layanan

Secara psikologis, FOMO membuat individu kehilangan kendali atas waktu dan prioritas hidupnya. Perasaan cemas karena terus membandingkan diri dengan orang lain mengakibatkan banyak anak muda merasa hidupnya tidak pernah cukup bahagia.

Stigma sebagai generasi yang "mudah baper" atau rapuh pun sering dikaitkan dengan kurangnya inisiatif dan kemandirian dalam menghadapi konflik di dunia nyata.

Para pakar menyarankan Gen Z untuk mulai mempraktikkan JOMO (Joy of Missing Out), yaitu seni untuk merasa bahagia meskipun tidak mengikuti setiap tren yang ada, guna membangun kembali pendirian dan kesehatan mental yang lebih stabil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....