Mengenal Istilah "Workaholic": Ketika Bekerja Menjadi Kecanduan

  • 07 Okt 2025 07:20 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Meulaboh: Pernahkah Anda merasa tidak bisa berhenti memikirkan pekerjaan, bahkan di hari libur? atau merasa bersalah saat tidak produktif?. Jika iya, bisa jadi Anda termasuk dalam kategori workaholic.

Istilah workaholic berasal dari bahasa Inggris yang menggabungkan kata "work" (kerja) dan "alcoholic" (pecandu alkohol). Pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Wayne Oates pada tahun 1971, istilah ini menggambarkan seseorang yang kecanduan bekerja bukan karena terpaksa, tapi karena dorongan dari dalam diri sendiri yang sulit dikendalikan.

Mengutip laman BPJS Ketenagakerjaan pada Selasa (7/10/2025), workaholic merupakan kondisi yang membuat seseorang bekerja tanpa henti. Mereka akan bekerja terus-menerus dan lebih mementingkan pekerjaan secara berlebihan bahkan membuatnya mengesampingkan aspek kehidupan yang lain. Bahasa mudahnya, workaholic adalah sebutan untuk yang gila atau kecanduan dengan pekerjaan. Biasanya, orang yang menderita kondisi ini akan mengubur diri dalam pekerjaan.

Workaholic berbeda dengan pekerja keras, Pekerja keras bisa berhenti saat tugas selesai dan menikmati waktu istirahat, sementara workaholic merasa bersalah atau cemas saat tidak bekerja. Dampaknya, tidak main-main. Kecanduan kerja dapat menyebabkan stres berkepanjangan, gangguan tidur, kelelahan mental, dan bahkan masalah hubungan sosial. Tak jarang, kondisi ini juga memicu burnout atau kelelahan emosional yang serius.

Fenomena ini kian marak di tengah budaya kerja modern yang menghargai produktivitas tinggi dan hustle culture. Terlebih, perkembangan teknologi membuat batas antara kehidupan kerja dan pribadi semakin kabur. Namun, para ahli menyarankan agar masyarakat lebih waspada. Seimbangkan waktu kerja dan istirahat. Ingat, hidup bukan hanya soal produktivitas, tapi juga soal kualitas.

Jika merasa mengalami gejala workaholism, seperti tidak bisa menikmati waktu luang, merasa cemas saat tidak bekerja, atau mulai mengabaikan kesehatan, sebaiknya segera konsultasi dengan tenaga profesional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....