Dari Sampah Menjadi Energi Mahasiswa UTU Ciptakan Phyrotech Pengubah Plastik Jad
- 08 Jul 2026 22:57 WIB
- Meulaboh
Poin Utama
- Empat mahasiswa Teknik Industri UTU mengembangkan Phyrotech, alat yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar cair melalui proses pirolisis pada suhu tinggi tanpa oksigen.
- Dari setiap satu kilogram sampah plastik, Phyrotech mampu menghasilkan 0,6 hingga 0,9 liter bahan bakar dengan karakteristik menyerupai solar sebagai energi alternatif.
RRI.CO.ID, Meulaboh - Tumpukan sampah plastik yang selama ini identik dengan pencemaran lingkungan ternyata mampu melahirkan sebuah inovasi yang menjanjikan. Di sebuah workshop sederhana di Desa Alue Peunyareng, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, empat mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Teuku Umar (UTU) membuktikan bahwa limbah plastik dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif melalui sentuhan teknologi.
Alat itu mereka beri nama Phyrotech. Meski dirancang dengan peralatan yang masih sederhana, teknologi tersebut mampu mengolah sampah plastik melalui proses pirolisis, yaitu pemanasan pada suhu tinggi tanpa oksigen hingga menghasilkan bahan bakar cair yang berpotensi menjadi energi alternatif sekaligus solusi pengurangan sampah plastik.
Di balik lahirnya Phyrotech berdiri empat mahasiswa muda, yakni Adi Syahputra, Husaini, Rangga Fages, dan Robela. Mereka mengembangkan alat tersebut di bawah bimbingan dosen Teknik Industri UTU, Ir. Heri Tri Irawan, S.T., M.T., melalui serangkaian penelitian, perancangan, hingga berbagai uji coba yang tidak selalu berjalan mulus.
Ketua tim, Adi Syahputra, mengatakan ide tersebut berawal dari keresahan melihat semakin banyaknya sampah plastik yang mencemari lingkungan.
"Kami melihat sampah plastik terus menumpuk. Banyak yang dibakar sehingga mencemari udara, sementara sebagian lagi hanya berakhir di tempat pembuangan akhir. Dari situ kami berpikir bagaimana sampah ini tidak hanya berkurang, tetapi juga memiliki nilai ekonomi," ujarnya, Selasa, 7 Juli 2026.
Melalui Phyrotech, limbah plastik seperti botol bekas air mineral, kantong plastik hingga styrofoam diproses di dalam reaktor berkapasitas sekitar lima kilogram. Dengan suhu yang dijaga tetap stabil selama lebih kurang satu jam, plastik mengalami proses pirolisis hingga menghasilkan minyak, gas, dan residu karbon.

Hasil awal yang diperoleh cukup menjanjikan. Dari setiap satu kilogram sampah plastik, alat tersebut mampu menghasilkan sekitar 0,6 hingga 0,9 liter bahan bakar dengan karakteristik menyerupai solar.
Meski demikian, Adi mengakui kualitas bahan bakar yang dihasilkan masih memerlukan penyempurnaan agar memenuhi standar penggunaan yang lebih luas.
"Ke depan kami ingin menyempurnakan sistem penyaringan, meningkatkan efisiensi energi, serta mengembangkan teknologi kondensasi agar kualitas bahan bakar yang dihasilkan semakin baik dan aman digunakan," katanya.
Di balik keberhasilan itu tersimpan perjalanan yang penuh tantangan. Proses perakitan alat beberapa kali mengalami kegagalan. Reaktor yang digunakan harus mengalami berbagai penyempurnaan, begitu pula sistem kondensasi yang berfungsi mengubah uap panas menjadi cairan bahan bakar.
Dosen pembimbing, Heri Tri Irawan, mengatakan inovasi tersebut lahir dari semangat mahasiswa yang ingin menghadirkan solusi terhadap persoalan lingkungan.
"Gagasan ini muncul dari keresahan melihat sampah plastik yang selama ini hanya dibakar atau berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa memberikan nilai tambah. Kami mencoba mengubah cara pandang bahwa sampah juga bisa menjadi sumber energi," ujarnya.
Menurut Heri, alat yang dikembangkan saat ini masih merupakan prototipe sederhana. Sebagian komponen bahkan dirakit dari material bekas dan sumbangan masyarakat sekitar, sementara beberapa bagian lainnya dibeli secara swadaya oleh tim mahasiswa.
Meski sederhana, hasil yang diperoleh menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan.
Ia menjelaskan bahwa secara ilmiah proses pirolisis menghasilkan tiga produk utama, yakni gas, minyak, dan karbon. Dengan penyempurnaan teknologi kondensasi serta pengaturan suhu yang lebih presisi, minyak hasil pirolisis nantinya berpotensi dipisahkan menjadi beberapa fraksi bahan bakar seperti solar, minyak tanah, hingga bensin.
"Kalau teknologinya terus disempurnakan, alat ini tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah, tetapi juga dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat," ucapnya.
Lebih dari sekadar menghasilkan bahan bakar, Phyrotech membawa pesan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat melalui riset dan inovasi.
Bagi para mahasiswa, proyek ini menjadi pengalaman berharga yang mempertemukan teori di ruang kuliah dengan praktik di lapangan. Mereka belajar merancang sistem teknik, menghitung kebutuhan energi, mengatasi berbagai kegagalan saat uji coba, hingga memastikan aspek keselamatan kerja dalam pengoperasian alat.
Heri menilai inovasi tersebut membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu memahami teori, tetapi juga menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Phyrotech menunjukkan bahwa mahasiswa Teknik Industri UTU mampu mengaplikasikan ilmu teknik dan manajemen lingkungan untuk menjawab tantangan nyata. Kami berharap inovasi ini terus berkembang hingga dapat dimanfaatkan secara luas," katanya.
Ke depan, tim pengembang berharap mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik, kampus, pemerintah maupun dunia industri, agar Phyrotech dapat disempurnakan menjadi teknologi yang lebih modern dan diproduksi dalam skala lebih besar.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik dan kebutuhan akan energi alternatif, inovasi sederhana dari sudut Aceh Barat ini menjadi bukti bahwa solusi besar dapat lahir dari gagasan anak-anak muda yang berani berpikir berbeda.
Jika kelak Phyrotech berkembang menjadi teknologi yang digunakan masyarakat luas, perjalanan itu akan selalu dikenang berawal dari sebuah workshop sederhana di Meureubo, tempat empat mahasiswa memilih melihat sampah bukan sebagai akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari lahirnya energi baru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....