Membangun Ruang Belajar Aman di Tengah Arus Digital
- 10 Okt 2025 19:00 WIB
- Meulaboh
KBRN, Meulaboh: Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca ruang belajar digital Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Harapan Bangsa. Suasana kelas tampak berbeda dari sekolah-sekolah tradisional pada umumnya.
Di depan kelas, bukan sekadar papan tulis putih yang terpampang, melainkan papan tulis digital yang menyala lembut menampilkan materi pelajaran hari itu: "Etika Menggunakan Internet dengan Bijak".
Anak-anak duduk rapi di depan meja masing-masing, laptop kecil terbuka di hadapan mereka. Jari-jari mungil mereka lincah menari di atas papan ketik, mengikuti arahan guru yang sedang menjelaskan cara mencari informasi yang benar di dunia maya.
“Ibu mengingatkan, jangan sampai gara-gara internet, main game terus, itu rugi, kecanduan, berbahaya bagi kalian yang usia masih sangat muda,” Febri Ananda Zuriyah, guru kelas digital MTsS Harapan Bangsa, Kamis (9/10/2025).
Ketika bel istirahat berbunyi, suasana berubah ramai. Sebagian anak memilih duduk santai di bawah rindangnya pohon di halaman sekolah, sambil menikmati cemilan dan jajan.
Di sana mereka membuka kembali laptopnya bukan untuk bermain game, melainkan untuk mengulang pelajaran dan menonton video pembelajaran. Tawa kecil dan diskusi ringan terdengar di antara mereka, menjawab wartawan dengan nada tersipu malu tapi serius.

Guru mendampingi siswa MTsS Harapan Bangsa Aceh Barat yang belajar menggunakan laptop di perkarangan sekolah pada jam istirahat, Kamis (9/10/2025). Foto RRI/ Anwar Yunus
“Kata bu guru kalau ada tiktok sama instagram sama whatsapp. Jangan ada chattingan sama cowok. Kalau untuk belajar gitu boleh. Untuk tahu-tahu informasi nggak perlu itu? dibolehkan browsing dan youtube untuk belajar, selain itu dibatasi, nggak boleh,” kata Nina, siswi Kelas VIII Rombel Digital saat duduk santai bersama sejumlah teman-temannya.
Program pembelajaran digital di MTsS Harapan Bangsa ini bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Sekolah berkomitmen untuk membangun sistem belajar digital yang sehat dan berkeadilan, sekaligus melindungi anak-anak dari ancaman negatif digitalisasi.
Mereka diajarkan bukan hanya cara menggunakan perangkat digital, tetapi juga etika, tanggung jawab, dan batasan dalam dunia maya. Suandi, MA Kepala Madrasah Harapan Bangsa, menyampaikan, telah menyediakan ruang publik digital sebuah area terbuka dengan koneksi aman.
Siswa dapat mengerjakan tugas, belajar kelompok, atau sekadar mengeksplor dunia digital secara positif. Ini mendukung pelaksanaan ujian siswa sudah serba digital, menggunakan smarphone maupun laptop.
“Kita batasi untuk belajar saja, yang positif. Kalau yang lain kita blokir. Selama di madrasah mereka bisa internetan juga, belajar ataupun apa yang kreasi mereka, tapi dalam pengawasan pihak sekolah seperti hari ini,” ujar Suandi.
Madrasah ini menjadi contoh bahwa teknologi dan pendidikan bisa berjalan seiring dengan nilai-nilai moral dan budaya. Keberhasilan ini menjadi bagian dari gerakan pemerataan akses digitalisasi pendidikan di Aceh Barat.

Suasana ruang belajar kelas Digital MTsS Harapan Bangsa Aceh Barat, Kamis (9/10/2025). Foto RRI/ Anwar Yunus
Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP, MM menyampaikan komitmennya dalam pemerataan akses digitalisasi Lembaga Pendidikan. Karena manfaatnya bukan hanya untuk hiburan para guru, tetapi menjadi akses siswa dalam belajar di dunia serba digital.
Sekolah-sekolah di pelosok kini mulai dilengkapi dengan jaringan internet, perangkat belajar, dan pelatihan bagi guru agar mampu beradaptasi dengan sistem baru. Harapannya, tidak ada lagi kesenjangan antara sekolah di kota dan di desa dalam menikmati manfaat teknologi, ini menjadi sebuah komitmen Pemerintah daerah.
“Sekarang mau kita bagikan ini, daerah yang terpencil, yang tidak ada koneksi, yang blank spot itu mau kita bagi Starlink. Seperti kemarin di Sekundo, itu kita bagi Starlink. Sekundu di Woyla Timur, yang jauh itulah. Starlink solusinya sekarang,” kata Tarmizi, dalam sesi wawancara di acara gala dinner bersama wartawan.
Di sekolah, anak-anak tak sekadar menjadi pengguna digital, tapi calon pemimpin masa depan yang paham etika, bijak dalam memilih informasi, dan siap menghadapi dunia yang serba digital.
Ruang digital di Harapan Bangsa bukan hanya tempat belajar, tapi ruang tumbuhnya generasi baru Aceh generasi yang melek teknologi, berkarakter kuat, dan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan.
PP Tunas untuk Anak Indonesia Hebat
Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi, anak-anak kini tumbuh di era digital yang serba cepat. Internet bukan lagi hal asing bagi mereka, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari tempat belajar, bermain, hingga berinteraksi sosial.
Namun, dibalik peluang besar yang ditawarkan dunia digital, terselip pula ancaman yang tidak bisa diabaikan seperti konten berbahaya, penyalahgunaan data, hingga kekerasan daring.
Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 Tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, dalam sebuah acara di halaman Istana Merdeka, Jakarta yang disiarkan live di platform YouTube pada Jumat 28 Maret 2025.
Kebijakan Tata Kelola untuk Anak Aman dan Sehat Digital (Tunas) diprakarsai Kabinet Merah Putih Menteri Komdigi Meutya Hafid, bersama Kemen PPPA serta sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih lain ini untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan digital yang lebih aman dari ancaman seperti perundungan siber, eksploitasi, dan kecanduan media sosial.
“Teknologi digital ini menjanjikan bisa membawa kemajuan pesat bagi kemanusiaan, tapi juga bila tidak diawasi dan dikelola dengan baik, justru juga bisa merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Terutama merusak akhlak, merusak psikologi, merusak watak daripada anak-anak kita,” ujar Presiden Prabowo dalam sebuah tayangan YouTube saat acara peluncuran PP Tunas.
Program PP Tunas menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi generasi penerus bangsa. Melalui pendekatan lintas sektor, pemerintah berupaya tidak hanya melindungi anak dari bahaya digital, tetapi juga membekali mereka dengan literasi yang memadai agar mampu menjadi pengguna internet yang cerdas dan beretika.
Pemerintah tidak hanya fokus pada pembatasan akses terhadap konten negatif, tetapi juga pada penguatan karakter, pendidikan digital, dan pendampingan orang tua. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga berdaya dalam dunia maya.
Berbagai langkah konkret telah dijalankan, mulai dari penyusunan panduan internet sehat bagi anak dan keluarga, pelatihan literasi digital untuk guru dan orang tua, hingga pembuatan aplikasi ramah anak yang berisi konten edukatif dan aman.
Pemerintah daerah juga didorong untuk membentuk Satuan Tugas Ruang Digital Ramah Anak, sebagai wujud kolaborasi di tingkat lokal. Sinergi ini menjadi kunci dalam memastikan seluruh anak Indonesia dapat menikmati manfaat teknologi tanpa kehilangan jati diri dan nilai moral.
Selain itu, PP Tunas menekankan pentingnya keadilan digital yakni kesempatan yang setara bagi semua anak untuk mengakses teknologi tanpa diskriminasi. Pemerintah mendorong perluasan jaringan internet hingga ke pelosok desa, memastikan anak-anak di daerah terpencil pun memiliki akses belajar daring yang layak.
Upaya ini menjadi langkah konkret untuk menutup kesenjangan digital dan mendukung pembangunan sumber daya manusia unggul di masa depan.Pemerintah juga bekerja sama dengan platform digital besar untuk memperkuat sistem perlindungan anak secara daring. Melalui kebijakan pengawasan konten, pengaduan cepat, dan pelabelan konten ramah anak, ruang digital diharapkan menjadi tempat yang sehat dan aman bagi tumbuh kembang generasi muda
PP Tunas tidak sekadar menjadi program seremonial, melainkan gerakan nasional yang mengajak seluruh elemen masyarakat pemerintah, keluarga, sekolah, media, dan komunitas untuk berperan aktif menjaga dunia digital agar tetap ramah bagi anak. Karena membangun ruang digital sehat bukan hanya tanggung jawab negara, melainkan tanggung jawab bersama.
Pada akhirnya, keseriusan pemerintah melalui PP Tunas adalah investasi besar bagi masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh dalam ruang digital yang aman dan berkeadilan akan menjadi generasi yang tangguh, cerdas, serta berkarakter. Mereka bukan hanya penerima manfaat teknologi, tetapi juga pencipta masa depan digital Indonesia yang lebih beretika, inklusif, dan manusiawi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....