Menjaga Laut, Merawat Kehidupan

  • 31 Mei 2025 20:32 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Meulaboh : Setiap pagi, saat mentari baru saja mengintip dari balik cakrawala, deru perahu-perahu nelayan terdengar kembali menepi di pesisir barat Aceh. Mereka datang membawa hasil laut segar, rezeki dari samudra yang luas. Di Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, denyut kehidupan masyarakat begitu erat dengan laut. Di sinilah berdiri sebuah tempat sederhana namun vital, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Panggong.

Di antara hiruk-pikuk transaksi dan canda para pedagang, tampak Deni Irsandi tengah sibuk menata ikan-ikan segar di atas tumpukan es. Ia bukan sekadar pedagang, melainkan bagian dari denyut ekonomi lokal yang menjaga tradisi dan nilai-nilai kebersamaan.

“Kalau sekadar jual, ya bisa saja dikirim keluar atau diekspor. Tapi di sini kami lebih pilih jualan langsung di lapak. Supaya warga bisa merasakan sendiri ikan segar dari laut kita,” ujar Deni (36) sambil tersenyum ketika ditemui RRI, Sabtu (31/5/2025).

Deni meyakini bahwa laut bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga sumber kehidupan yang harus dijaga dan dinikmati secara adil. Prinsip itu tercermin dari pilihan para pedagang untuk memprioritaskan pasar lokal daripada memburu keuntungan dari pasar luar. Keputusan itu mungkin sederhana di mata sebagian orang, namun punya makna besar bagi keberlanjutan pangan masyarakat.

Deni Irsandi (36) adalah seorang Pedagang ikan di TPI Panggong, Johan Pahlawan, Aceh Barat. Lahir dan besar di Desa Panggong, Deni telah berjualan ikan sejak beberapa tahun silam. Setiap hari, Deni tiba di TPI sejak pukul 6 pagi hingga malam hari untuk menata dagangannya, sebagian besar hasil tangkapan nelayan lokal. Ia dikenal ramah oleh pembeli, jujur dalam timbangan, dan tekun menjaga kualitas ikan yang dijualnya. Bagi Deni, berdagang bukan sekadar mencari untung, tetapi juga bentuk bakti kepada kampung dan laut yang telah memberinya kehidupan.

Laut yang Menjaga, Laut yang Dijaga

Keanekaragaman hayati laut di perairan Aceh Barat memang menjadi anugerah tersendiri. Dari kakap, kerapu, tuna, hingga ikan-ikan karang seperti rambee dan bolo (kembung), semuanya menjadi pilihan utama masyarakat untuk dikonsumsi harian. Harga pun disesuaikan dengan jenis dan kualitas. Kakap dijual antara Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram, kerapu Rp70 ribu sampai Rp80 ribu, dan tuna besar Rp70 ribu/kg. Baby tuna yang lebih kecil dijual dengan harga Rp50 ribu/kg, sementara jenis karang lain berkisar antara Rp60 ribu sampai Rp70 ribu/kg.

“Ikan kakap, rambee, sama kerapu itu yang paling dicari. Karena selain rasanya enak, segarnya juga beda. Pembeli di sini bisa langsung lihat dan pilih, kami jamin kualitas,” ungkap Deni.

Menurutnya, ikan yang dijual di TPI Panggong tidak pernah menginap terlalu lama. Kebanyakan langsung habis dalam sehari. Kesegaran menjadi prioritas utama, bukan hanya untuk menjaga kualitas rasa, tapi juga kesehatan konsumen.

Pasar Rakyat, Pusat Kehidupan

TPI Panggong bukan hanya tempat jual beli, tetapi juga ruang sosial tempat bertemunya nelayan, pedagang, dan warga. Di sinilah terjadi pertukaran bukan hanya barang, tapi juga cerita, kabar, dan harapan. Suasana pasar yang hidup sejak pagi hingga siang hari menjadi simbol dari semangat gotong royong dan kepercayaan antar warga.

Anak-anak kecil kadang terlihat berlarian di antara lapak, membantu orang tua mereka, atau sekadar bermain air. Para ibu memilih ikan sambil bertukar resep masakan. Di satu sudut, seorang nelayan tua mengisahkan betapa laut telah menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.

“Kami merasa bangga bisa jual di sini. Karena tahu bahwa ikan yang kami jual akan disantap tetangga, saudara, orang-orang yang kami kenal,” kata Deni, matanya berbinar.

Kearifan Lokal yang Bernilai Tinggi

Dalam dunia yang semakin terhubung secara global, banyak hasil laut Aceh yang sebenarnya bisa saja dibawa jauh—menjadi komoditas ekspor dengan nilai jual tinggi. Namun, di TPI Panggong, yang dijaga justru adalah nilai lokalitas dan akses masyarakat terhadap sumber pangan sehat.

Konsep ini juga selaras dengan konservasi. Dengan menjual hasil laut secara bijak dan tidak berlebihan, masyarakat membantu menjaga kelestarian laut. Tidak ada eksploitasi besar-besaran, tidak ada pemborosan. Setiap ikan yang ditangkap punya tujuan: untuk memberi makan, bukan sekadar untuk dijual.

Kearifan ini tumbuh dari pengalaman turun-temurun, dari kesadaran bahwa laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan rumah bersama yang harus dirawat.

Laut Adalah Harapan

Di tengah berbagai tantangan, mulai dari cuaca ekstrem, biaya operasional tinggi, hingga persaingan pasar, semangat para pedagang dan nelayan di TPI Panggong tak pernah padam. Mereka terus berlayar, terus menjual, terus menjaga.

TPI Panggong adalah bukti nyata bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari hal sederhana: menjual ikan segar kepada warga sendiri, bukan kepada pasar yang jauh. Karena bagi mereka, menjaga laut berarti menjaga kehidupan, menjaga budaya, dan menjaga dapur tetap mengepul.

Dan setiap kali piring di rumah-rumah Aceh Barat terisi oleh ikan segar dari perairan sendiri, ada cerita panjang yang ikut tersaji—tentang kerja keras, cinta pada tanah kelahiran, dan tekad untuk terus berbagi rezeki dari laut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....