The Power of TikTok! UMKM Mie Marimbon Meledak, Penjualan Naik 10 Kali Lipat
- 22 Mei 2026 15:02 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Berawal dari jualan sederhana di teras rumah dengan meja kecil seadanya, UMKM Mie Marimbon di Desa Tanjung Bungong, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, kini menjelma menjadi kuliner viral yang ramai diburu masyarakat setelah meledak di TikTok. Usaha milik Muhammad Safwani itu bahkan mengalami lonjakan penjualan hingga 10 kali lipat, dari hanya lima kilogram mie per hari menjadi 40 hingga 50 kilogram per hari.
Fenomena tersebut bermula ketika Muhammad Safwani iseng mengunggah video masakan buatannya ke media sosial. Tanpa strategi khusus, video itu justru masuk FYP TikTok dan menarik perhatian warganet hingga pelanggan mulai berdatangan dari berbagai daerah.
“Awalnya cuma jualan kecil-kecilan di teras rumah. Kami juga jarang promosi. Tapi setelah posting di TikTok, tiba-tiba viral dan banyak orang datang,” kata Muhammad Safwani saat diwawancarai dalam program UMKM Corner.
Sebelum viral, pelanggan Mie Marimbon hanya berasal dari lingkungan sekitar desa. Namun kini, pembeli datang dari berbagai wilayah, mulai dari Aceh Barat Daya hingga Banda Aceh hanya untuk mencicipi mie yang dikenal memiliki cita rasa khas Samalanga tersebut.
Menurut Safwani, kekuatan utama Mie Marimbon terletak pada racikan bumbu yang dibuat langsung oleh ibunya. Bumbu khas itu menjadi pembeda dibandingkan mie Aceh lainnya yang sudah banyak dijual di Meulaboh.
“Yang paling dicari itu mie daging. Bumbunya memang khas dan diracik langsung oleh mamak saya,” ujarnya.
Lonjakan pelanggan usai viral membuat Safwani harus beradaptasi cepat. Ia mengaku sempat kewalahan melayani antrean panjang pelanggan yang rela menunggu berjam-jam demi menikmati Mie Marimbon. Bahkan, pesanan sudah masuk sejak pagi sebelum warung dibuka.
“Kadang jam 11 siang sudah banyak yang menunggu di pondok. Bahkan saat saya masih di pasar belanja bahan, pesanan sudah masuk lewat HP,” katanya.
Untuk mengatasi antrean, Safwani kini menambah tenaga kerja agar pelayanan tetap maksimal. Ia menilai tantangan terbesar setelah viral bukan hanya soal banyaknya pesanan, tetapi menjaga kualitas rasa dan pelayanan agar pelanggan tetap puas.
“Yang harus dijaga itu kualitas. Jangan sampai setelah viral rasanya berubah atau pelayanan menurun,” ucapnya.
Selain rasa khas, harga yang terjangkau juga menjadi alasan Mie Marimbon cepat diminati masyarakat. Menu dijual mulai Rp10 ribu untuk mie biasa, sementara menu spesial campur berisi ayam, udang, kerang, dan daging dibanderol sekitar Rp35 ribu hingga Rp40 ribu.
Usaha yang baru dirintis sejak Lebaran Idulfitri 2026 itu kini mulai memikirkan pengembangan usaha, termasuk rencana membuka cabang di pusat Kota Meulaboh. Permintaan tersebut, kata Safwani, banyak datang langsung dari pelanggan yang berharap Mie Marimbon lebih mudah dijangkau.
Di tengah viralitas usahanya, Safwani juga membagikan pesan bagi masyarakat yang ingin memulai bisnis agar tidak takut memulai dari hal kecil. Ia menilai media sosial kini menjadi peluang besar bagi UMKM untuk berkembang lebih cepat.
“Hilangkan gengsi dan mulai saja dulu. Gunakan media sosial untuk promosi karena dampaknya luar biasa,” katanya.
Keberhasilan Mie Marimbon menjadi bukti bahwa UMKM lokal memiliki peluang besar untuk berkembang dan dikenal luas melalui kreativitas serta pemanfaatan media sosial. Dari teras rumah di pelosok desa, usaha sederhana itu kini sukses menarik perhatian ribuan pengguna TikTok dan menjadi destinasi kuliner baru di Aceh Barat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....