Gaya Hidup Konsumtif dan Pinjol Ancam Keuangan Keluarga di Era Digital

  • 26 Jul 2026 16:36 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Perkembangan teknologi digital dan kemudahan berbelanja secara daring dinilai turut meningkatkan risiko perilaku konsumtif di kalangan masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan finansial keluarga jika tidak disikapi dengan bijak.

Hal itu disampaikDosen Ekonomi Syariah STAI Darul Hikmah Aceh Barat, Arizul Suwar, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam program Inflasi dan Investasi RRI Meulaboh.an Dosen Ekonomi Syariah STAI Darul Hikmah Aceh Barat, Arizul Suwar, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam program Inflasi dan Investasi RRI Meulaboh. Menurut Arizul, media sosial dan berbagai platform belanja daring sering kali mendorong masyarakat membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena keinginan dan dorongan mengikuti tren.

“Ketika melihat orang lain memiliki sesuatu di media sosial, banyak yang ikut terpancing. Akhirnya pengeluaran bertambah tanpa disadari,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebiasaan tersebut dapat menjadi pintu masuk berbagai persoalan keuangan, mulai dari utang konsumtif hingga penggunaan pinjaman online (pinjol) yang tidak terkendali.

“Awalnya hanya ingin memenuhi gaya hidup. Ketika uang tidak cukup, sebagian orang memilih berutang atau menggunakan pinjol. Jika tidak mampu membayar, dampaknya bisa berlanjut pada stres dan gangguan kesehatan,” jelasnya.

Untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga, Arizul mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan dapur seperti cabai, kangkung, kunyit, dan tanaman lainnya.

“Hal kecil seperti menanam cabai atau sayuran sendiri memang terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat membantu mengurangi biaya rumah tangga,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri mengikuti standar hidup orang lain, termasuk dalam memilih gaya hidup maupun pendidikan anak yang melebihi kemampuan ekonomi keluarga.

“Hiduplah sesuai kemampuan. Jangan karena gengsi kemudian memaksakan sesuatu yang sebenarnya di luar kapasitas keuangan. Pada akhirnya yang menanggung konsekuensinya adalah diri sendiri dan keluarga,” tegasnya.

Arizul berharap masyarakat semakin sadar pentingnya literasi keuangan dan mampu membangun kebiasaan sederhana seperti mencatat pengeluaran, menyusun skala prioritas, serta menabung untuk kebutuhan masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....