Industri Tambang di Aceh Barat Dorong Ekonomi dan Serap Ribuan Tenaga Kerja
- 14 Mei 2026 11:43 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh : Aktivitas pertambangan batu bara yang dijalankan PT Mifa Bersaudara disebut turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah operasional perusahaan, khususnya di Kabupaten Aceh Barat. Selain memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), PT. MIFA bersaudara juga mengklaim telah menyerap ribuan tenaga kerja lokal.
Dalam pemaparannya saat menggelar jumpa pers di RRI Meulaboh, Act Group Head CEC PT. Mifa Bersaudara, Tengku Khaddafi Al- Munir menjelaskan bahwa operasional tambang mencakup 30 gampong yang dibagi dalam tiga wilayah ring pengembangan masyarakat. Ring 1 terdiri dari enam gampong, Ring 2 sebanyak sebelas gampong, dan Ring 3 mencakup tiga belas gampong.
Khaddafi menyebutkan, komitmen terhadap tenaga kerja lokal menjadi salah satu fokus utama. Dari sekitar 300 karyawan inti PT Mifa Bersaudara, hampir 80 persen berasal dari Aceh. Sementara jika termasuk vendor, jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 4.000 orang.
Pihak PT. MIFA bersaudara menilai kehadiran industri tambang telah memicu pergerakan ekonomi di wilayah sekitar tambang. Kondisi tersebut disebut terlihat dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat hingga perubahan taraf hidup warga di sejumlah desa lingkar tambang.
Selain sektor ketenagakerjaan, perusahaan juga menjalankan program tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi desa, hingga pelestarian lingkungan.
Program CSR dan PPM yang dijalankan perusahaan antara lain pelatihan vokasi bagi pemuda, pembangunan rumah layak huni, penguatan usaha lokal, hingga program konservasi lingkungan.
Di sisi lain, Khaddafi mengakui aktivitas pertambangan tetap memiliki dampak terhadap lingkungan. Namun, perusahaan memastikan upaya reklamasi terus dilakukan secara bertahap di area bekas tambang sesuai ketentuan pemerintah.
Menurut perusahaan, dana jaminan reklamasi juga telah disiapkan sebelum aktivitas penambangan dilakukan, sebagai bentuk komitmen pemulihan lingkungan pascatambang. Meski demikian, perusahaan mengakui investasi pertambangan di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi cuaca ekstrem, keterbatasan infrastruktur, hingga dinamika sosial masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....