Konsumen Beralih ke Online Pedagang Pakaian Mengeluh Sepi Pembeli

  • 27 Apr 2026 23:04 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID,Meulaboh-Kondisi pusat perbelanjaan pakaian konvensional kini semakin memprihatinkan seiring dengan pergeseran gaya hidup masyarakat ke arah digital. Pak Bram, pemilik toko pakaian "Belfas ", mengungkapkan bahwa lesunya aktivitas jual beli fisik terasa sangat kontras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Saat diwawancarai oleh RRI, ia menyebutkan bahwa saat ini daya beli konsumen di tokonya merosot tajam dan hanya bertahan di angka 30 persen dari kapasitas normalnya.

Salah satu faktor utama yang memicu eksodus pelanggan ini adalah fleksibilitas keuangan yang ditawarkan oleh platform digital. Fitur pembayaran seperti SpayLater memberikan kemudahan bagi konsumen untuk memiliki pakaian impian dengan sistem cicilan yang praktis.

Keunggulan finansial ini menjadi daya tarik yang sulit ditandingi oleh toko fisik, di mana pelanggan umumnya harus melakukan pembayaran secara tunai atau penuh di depan.

Selain masalah sistem pembayaran, ketimpangan harga juga menjadi beban berat bagi pedagang konvensional seperti Bram. Ia menjelaskan bahwa toko fisik harus menanggung biaya operasional yang tinggi, mulai dari sewa tempat yang terus naik hingga biaya listrik bulanan.

Beban biaya ini membuat harga jual di toko fisik sulit bersaing dengan harga grosir di marketplace yang sering kali memangkas jalur distribusi demi harga yang lebih murah.

Perubahan perilaku belanja juga didorong oleh hadirnya tren Live Shopping di berbagai platform media sosial. Fenomena ini tidak hanya menawarkan transaksi jual beli, tetapi juga menyuguhkan unsur hiburan dan interaksi langsung antara penjual dan pembeli.

Pengalaman belanja yang dinamis dan interaktif inilah yang tidak didapatkan konsumen saat berkunjung ke toko biasa, sehingga banyak masyarakat kini lebih memilih memantau layar ponsel ketimbang berkeliling pasar.

Menghadapi situasi yang serba sulit ini, Bram hanya bisa berharap agar iklim usaha dapat kembali pulih dan normal seperti sedia kala. Meski sadar akan gempuran teknologi, ia berharap ada keseimbangan regulasi atau inovasi yang mampu membawa kembali keramaian pelanggan ke tokonya.

"Kami sangat berharap bisa kembali normal seperti dulu, karena ekonomi kami bergantung sepenuhnya pada perputaran di toko ini," pungkasnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....