Menguji Santri dengan Perlombaaan

  • 07 Sep 2026 12:39 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, MEULABOH – Perkembangan zaman memicu terjadinya transisi pada lembaga pendidikan Islam (dayah/pesantren) di Aceh. Banyak dayah yang sebelumnya bertipe Salafiyah (murni pengajian agama) kini bertransformasi menjadi Dayah Terpadu atau modern yang memadukan pendidikan keagamaan dengan kurikulum formal.

Isu transisi lembaga dayah serta metode penguatan karakter santri menjadi fokus pembahasan dalam dialog Meulaboh Menyapa di RRI Meulaboh. Dialog ini menghadirkan Ketua Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Dayah Zainatul Ulum Diniyah Islamiyah (ZUDI), Tengku Nasir Idrus, serta perwakilan dewan guru, Tengku Mubarak.

Merekam Transisi Dayah di Era Modern

Ketua LPD Dayah ZUDI, Tengku Nasir Idrus, menjelaskan bahwa munculnya dayah terpadu merupakan inovasi pimpinan dayah untuk menjawab kebutuhan orang tua murid di era modern.

"Seiring perkembangan zaman, banyak orang tua di kawasan perkotaan menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan formal sekaligus pembekalan agama yang kuat di lingkungan terisolasi yang aman dari pergaulan bebas. Inilah yang mendorong menjamurnya dayah terpadu di Aceh Barat," kata Tengku Nasir.

Meski demikian, nilai-nilai dasar pengajaran kitab kuning dan hafalan Al-Qur'an khas dayah salafiyah tetap menjadi fondasi utama yang dipertahankan.

Perlombaan Bukan Sekadar Berburu Juara, Tapi Latihan Public Speaking

Dalam kesempatan yang sama, Tengku Mubarak mengungkapkan bahwa Dayah ZUDI rutin menggelar ajang evaluasi berbentuk perlombaan antar-kelas secara berkala (tiap pertengahan semester/6 bulan).

Tengku Nasir menambahkan, orientasi utama dari ajang perlombaan ini bukanlah sekadar meraih tropi kemenangan, melainkan menggembleng mentalitas dan keberanian santri berbicara di depan umum (public speaking).

"Saat santri terjun ke masyarakat, warga tidak hanya bertanya berapa juz Al-Qur'an yang dihafal, tapi bertanya apakah mereka bisa menjadi imam, bisa khotbah Jumat, ceramah maulid, hingga menguasai tata cara pemotongan hewan. Karena itu, ajang ini melatih mental santri agar siap pakai dan tidak canggung di tengah masyarakat," tegas Tengku Nasir.

Terobosan Baru: Seleksi Berjenjang dari Kelas ke Pentas Utama

Untuk mengoptimalkan ajang evaluasi tahun ini (yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober), Dayah ZUDI menerapkan format baru dalam pelaksanaan perlombaan:

[Mekanisme Baru Ajang Evaluasi Santri]

1. Seleksi Tingkat Lokal (Kelas): Seluruh santri wajib berkompetisi dan dievaluasi di dalam kelas masing-masing.

2. Penyisihan & Pembinaan: Perwakilan terbaik dari tiap kelas disaring dan dibina oleh dewan guru serta LPD.

3. Pentas Utama: Santri-santri terpilih beradu bakat di panggung utama untuk menjaga kualitas dan daya saing kompetisi.

Tengku Mubarak menjelaskan bahwa persiapan dilakukan selama satu bulan sebelum perlombaan, mencakup pengulangan hafalan bahasa Arab, Al-Qur'an, dan materi kitab.

Terdapat sekitar 11 hingga 12 cabang perlombaan yang diujikan, dengan fokus utama pada:

  • Keagamaan & Kitab: Musabaqah Qira'atil Kutub (baca kitab), Fahmul Kutub (pemahaman kitab), dan Tahfizul Qur'an.
  • Pengembangan Dakwah: Khotbah Jumat, Pidato/Ceramah, dan Syarhil Qur'an.

Pembuktian Lewat Safari Ramadan

Hasil pembinaan dan penggemblengan melalui LPD ini terbukti membuahkan hasil di lapangan. Melalui program Safari Ramadan, santri-santri Dayah ZUDI—termasuk yang masih duduk di jenjang SMP—telah dipercaya dan berani tampil mengisi tausiah atau ceramah Subuh dan Tarawih di tengah-tengah masyarakat.

"Melihat santri yang awalnya pemalu kini berani mengekspresikan potensinya di depan khalayak, itu sudah merupakan sebuah pencapaian dan kemenangan bagi kami para dewan guru," tutup Tengku Mubarak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....