Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk Kehidupan Berkelanjutan di Masa Depan
- 18 Jul 2026 23:51 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID , Meulaboh - Kesalahan dalam mengelola lingkungan hidup tidak akan langsung memicu bencana pada keesokan hari atau minggu depan.
Namun, dampaknya baru akan dirasakan secara nyata oleh anak cucu dalam kurun waktu berpuluh-puluh tahun ke depan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehidupan Berkelanjutan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Aceh Barat, Ir. Rahmatillah, S.T., M.Ling. IPM.ASEAN Eng. dalam dialog interaktif
Green Radio di RRI Meulaboh.
Dialog ini mengupas tuntas pentingnya komitmen bersama dalam tema ,Pengelolaan Lingkungan Hidup terhadap Kehidupan Berkelanjutan.
Pembangunan berkelanjutan artinya apa yang kita lakukan atau kita bangun hari ini jangan sampai membawa dampak buruk bagi generasi masa depan,
Kita harus mengelola sekeliling kita agar tidak terjadi bencana alam atau pencemaran di masa yang akan datang, ujar Ir. Rahmatillah, yang juga merupakan alumni Magister Pengelolaan Lingkungan Universitas Syiah Kuala tersebut.
Optimalisasi TPS3R demi Perpanjang Umur TPA
Dalam memotret kondisi pengelolaan lingkungan di Indonesia, khususnya di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Rahmatillah mengapresiasi keberhasilan implementasi program-program besutan pemerintah pusat yang sudah berjalan baik di tingkat daerah.
Salah satu program yang krusial adalah ,TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle)
Penerapan konsep TPS3R dinilai sangat efektif untuk menekan volume sampah langsung dari sumbernya.
- Reduce (Mengurangi): Meminimalisir produksi sampah harian.
- Reuse (Memanfaatkan): Menggunakan kembali barang-barang yang masih layak.
- Recycle (Mendaur Ulang): Mengolah kembali sampah menjadi barang bernilai guna.
Tujuan utama TPS3R ini adalah untuk memperpanjang umur TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sampah dipilah dulu sebelum dibuang,
Sampah organik dijadikan pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik dicacah untuk dijual kembali atau diolah menjadi kerajinan tangan.
Hanya sampah residu atau B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) saja yang akhirnya dibuang ke TPA,jelasnya.
Bahaya Sanitasi Buruk: Ancaman Air Limbah Domestik
Selain persoalan sampah, Rahmatillah juga menyoroti pentingnya program pembenahan infrastruktur sanitasi yang layak dari pemerintah,
seperti penyediaan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dalam berbagai skala—mulai dari skala kawasan, perkotaan, hingga rumah tangga.
Ia mengingatkan masyarakat untuk memastikan bahwa tangki septik di rumah dibangun dengan standar yang kedap air agar tidak mencemari muka air tanah.
Kita harus bayangkan, jika jarak antara sumur bor dengan tangki septik di rumah tidak sampai 10 meter dan kondisinya tidak kedap, maka tangki tersebut akan merembes.
Secara tidak langsung, kita mengonsumsi air tanah yang sudah tercemar oleh limbah domestik kita sendiri," cetus insinyur profesional madya (IPM) tersebut.
Langkah Konkret Menuju Masa Depan Berkelanjutan
Menurut Rahmatillah, kecanggihan teknologi saat ini sangat membantu percepatan penyampaian informasi dan edukasi lingkungan ke masyarakat luas melalui berbagai media.
Namun, program dan teknologi yang hebat tidak akan berjalan optimal tanpa adanya aksi nyata.
Berikut adalah beberapa langkah konkret dan inovasi sederhana yang dapat diterapkan secara kolektif.
1. Pendidikan Lingkungan Sejak Dini
Institusi pendidikan diharapkan mulai memasukkan materi edukasi lingkungan hidup ke dalam kurikulum dasar (SD, SMP, SMA).
Anak-anak perlu diajarkan hal-hal mendasar seperti memilah sampah dan menjaga kebersihan sekolah agar terhindar dari bau, kekotoran, dan tumpukan sampah plastik yang tidak bisa terurai hingga ratusan tahun.
Pihak sekolah juga bisa bekerja sama dengan LSM atau sektor swasta untuk membuat kebun mini berbasis pupuk kompos mandiri.
2. Memilah Sampah dari Rumah & Gerakan ASRI
Masyarakat diimbau mendukung penuh program kebersihan, ASRI,yang sempat dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto melalui gerakan gotong royong sebelum mulai beraktivitas.
Aksi bersih-bersih ini harus dibudayakan dari rumah masing-masing.
Sampah organik dikelola menggunakan metode komposting mini (seperti Takakura) untuk menghasilkan pupuk dan air lindi, sedangkan sampah plastik dikumpulkan untuk disalurkan ke bank sampah.
3. Penghitungan Sanitasi Domestik & Penghijauan
Masyarakat diharapkan tidak membuang air limbah domestik secara sembarangan langsung ke saluran umum tanpa penyaringan awal.
Selain itu, penanaman pohon di pekarangan rumah atau budidaya hidroponik sangat disarankan.
Pohon memiliki peran vital untuk menyerap karbon (CO2), sehingga kelestariannya harus dijaga dengan baik dan tidak ditebang sembarangan demi mencegah krisis perubahan iklim.
4. Waspada Perubahan Iklim dan Dampak Sampah
Ketidakstabilan cuaca akibat perubahan iklim global kerap memicu datangnya musim penyakit seperti demam tinggi di masyarakat.
Selain itu, curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus berisiko menimbulkan genangan air parah jika saluran drainase tersumbat oleh sedimen dan tumpukan sampah yang dibuang sembarangan.
Masalah lingkungan, terutama sampah, adalah urusan yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Jangan pernah berasumsi bahwa ini bukan tugas kita. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tugas pemerintah semata,tutup Rahmatillah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....