Segenggam Beras dari Dapur Sederhana

  • 26 Apr 2026 20:30 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Tidak semua gerakan besar lahir dari sesuatu yang besar. Di Gampong Batu Putih, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, kepedulian justru tumbuh dari dapur-dapur sederhana para ibu rumah tangga.

Setiap hari, saat menanak nasi, mereka menyisihkan satu genggaman beras. Bukan karena terpaksa, melainkan kesadaran untuk berbagi. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang ini, lahir sebuah gerakan sosial yang kini mulai memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Gerakan tersebut berkembang di tengah jamaah Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) melalui program pengajian Beut Droe. Dalam majelis ini, Al-Qur’an tidak hanya dipelajari sebagai bacaan, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap pekan, jamaah berkumpul untuk mengaji dan memperdalam pemahaman agama. Namun nilai-nilai yang dipelajari tidak berhenti di ruang pengajian. Ia mengalir ke rumah, masuk ke dapur, dan menjadi kebiasaan sederhana: menyisihkan segenggam beras setiap kali memasak.

Beras yang terkumpul kemudian dibawa ke majelis pada Minggu terakhir setiap bulan untuk disatukan dan disalurkan kepada warga yang membutuhkan. Selain itu, jamaah juga mengumpulkan infaq sebesar Rp2.500 setiap pertemuan untuk melengkapi bantuan berupa kebutuhan pokok seperti telur dan minyak goreng.

Pendiri AKQ, Ustadz Syamsul Kamal, menekankan bahwa ilmu yang dipelajari harus diwujudkan dalam amal nyata.

Di lapangan, program ini digerakkan oleh Supiani selaku Bunda Imarah yang mengoordinir jamaah, memastikan kebiasaan berbagi tetap berjalan konsisten. Sementara distribusi bantuan dikelola oleh Irma Fitri, Amd, sebagai Bunda Khidmah, agar tepat sasaran dan menyentuh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Peran pembinaan juga diperkuat oleh Ermaini, SE, Bunda Hikmah, yang memberikan arahan agar program tetap berjalan sesuai nilai-nilai yang diajarkan.

Meski terlihat sederhana, gerakan ini telah berlangsung secara berkelanjutan dan beberapa kali menyalurkan santunan kepada masyarakat. Keberlanjutan inilah yang menjadi kekuatan utama—tidak bergantung pada momentum, melainkan tumbuh dari kesadaran bersama.

Bagi jamaah, program ini bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi juga latihan hati. Mereka belajar bahwa memberi tidak mengurangi, dan berbagi tidak membuat kekurangan.

Dari Batu Putih, Meulaboh, sebuah pelajaran sederhana hadir: perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Terkadang, cukup dari satu genggaman kecil yang dilakukan bersama, dijaga dengan konsisten, dan disalurkan dengan keikhlasan.

Dari dapur-dapur sederhana itu, segenggam beras terus bergerak—setiap bulan, tanpa henti.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....