Generasi Muda Aceh 'Napas Baru' bagi Kelestarian Hikayat
- 07 Apr 2026 18:07 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Di tengah gempuran tren budaya populer dan algoritma media sosial yang serba cepat, salah seorang seniman muda di Aceh Barat Yunis Fahendra, S.I.Kom, justru mendedikasikan diri sebagai penjaga Hikayat Aceh, seni sastra tutur tradisional yang kini mulai bertransformasi mengikuti perkembangan zaman digital.
Dalam Talkshow Sore Ceria di studio Pro 2 RRI Meulaboh, Yunis mengatakan hikayat yang selama berabad-abad menjadi sarana edukasi, dakwah, dan hiburan bagi masyarakat Aceh, kini tidak lagi hanya terdengar di panggung-panggung desa atau balai adat. Lewat tangan kreatif generasi Z dan milenial, bait-bait syair kuno tersebut mulai merambah platform modern seperti TikTok dan Instagram.
Tantangan terbesar pelestarian Hikayat saat ini adalah relevansi. Menurutnya, anak muda tidak akan tertarik jika Hikayat hanya disajikan dalam format konvensional yang statis.
"Kami tidak mengubah isi atau nilai moral dalam Hikayat, tapi kami mengubah kemasannya. Digitalisasi adalah kunci agar pesan leluhur ini sampai ke telinga generasi sekarang,"ujarnya
Beberapa inovasi yang bisa dilakukan para seniman muda saat seperti, pembuatan konten video pendek dengan subtitle kekinian, kolaborasi Hikayat dengan musik lo-fi atau ambient, hingga penggunaan ilustrasi digital untuk memvisualisasikan cerita-cerita kepahlawanan dalam naskah Hikayat. Ujarnya
Hikayat mengandung pesan moral yang sangat relevan dengan isu kesehatan mental dan ketangguhan diri yang sering dibahas anak muda saat ini.
"Di dalam Hikayat ada nilai kesabaran, adab, dan keberanian. Itu yang kita kemas ulang. Digitalisasi bukan musuh, tapi kendaraan. Kalau kita tidak mengisi ruang digital dengan Hikayat, maka ruang itu akan diisi oleh budaya luar sepenuhnya," ujarnya
Menjaga Hikayat bukan berarti kaku pada cara lama. Justru dengan kreativitas anak muda, Hikayat bisa 'bernyawa' kembali di layar ponsel setiap orang. Kita tidak ingin menjadi generasi terakhir yang mendengar Hikayat, tapi menjadi jembatan agar ia terus bergema hingga masa depan, jangan sampai budaya hikayat kita ini disukai atau di klaim oleh orang luar, sudah saatnya kita sebagai generasi muda melestarikan identitas daerah Aceh " ujarnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....