Sejarah Singkat dan Asal-usul Tradisi Mudik di Indonesia

  • 15 Mar 2026 22:59 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Istilah "Mudik" telah menjadi fenomena kultural yang tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Indonesia. Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan serentak menuju kampung halaman. Namun, tahukah Anda dari mana tradisi ini bermula?

Sejarah dan Asal-usul Tradisi Mudik di Indonesia

1. Akar Kata "Mudik"

Secara etimologi, kata mudik berasal dari bahasa Jawa kuno, yaitu kirata basa "mulih dhisik" yang berarti "pulang sebentar" atau "pulang dulu".

Dalam perspektif lain, masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai singkatan dari "menuju udik". Kata "udik" berarti selatan atau hulu. Pada masa lalu, wilayah kota Jakarta (Batavia) dibagi menjadi wilayah "kota" dan "udik". Saat orang-orang yang bekerja di kota kembali ke pinggiran (hulu sungai), mereka menyebutnya "menuju udik" atau mudik.

2. Tradisi Petani Majapahit

Jauh sebelum dikenal sebagai tradisi Islam, cikal bakal mudik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Para petani yang merantau seringkali pulang ke kampung halamannya untuk membersihkan makam leluhur dan berdoa demi keselamatan panen. Ritual pulang kampung ini dilakukan secara rutin pada waktu-waktu tertentu.

3. Transformasi Menjadi Fenomena Modern (Era 1970-an)

Istilah mudik mulai populer dan dikaitkan erat dengan Idulfitri pada era 1970-an. Hal ini didorong oleh fenomena urbanisasi besar-besaran di Indonesia, terutama menuju Jakarta.

Banyak penduduk desa yang pindah ke kota untuk mencari pekerjaan di sektor industri dan pemerintahan. Momentum Lebaran kemudian menjadi satu-satunya kesempatan bagi para perantau untuk.

Berkumpul kembali dengan keluarga besar.

Menunjukkan eksistensi atau keberhasilan di tanah rantau.

Melakukan ziarah kubur sesuai tradisi turun-temurun.

4. Mudik dalam Konteks Sosial-Ekonomi

Seiring berjalannya waktu, mudik bukan sekadar urusan spiritual, melainkan roda penggerak ekonomi. Aliran uang dari kota ke desa selama masa mudik membantu pemerataan ekonomi di daerah-daerah. Pemerintah pun mulai secara resmi mengelola arus mudik melalui penyediaan infrastruktur dan transportasi massal karena jumlah pelakunya yang terus melonjak setiap tahun.

Mudik adalah perpaduan unik antara tradisi agraris kuno, pola urbanisasi modern, dan nilai-nilai religius. Meski menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, nilai silaturahmi tetap menjadi motivasi utama yang menjaga tradisi ini tetap hidup hingga sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....