Menjaga Lisan saat Membicarakan Orang Lain
- 06 Okt 2026 17:57 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Percakapan ringan di tempat kerja terkadang dapat menjadi cara untuk mencairkan suasana. Namun, pembicaraan bisa berubah menjadi sesuatu yang kurang baik ketika mulai membahas kekurangan atau urusan pribadi orang lain.
Gosip sering kali bermula dari hal sederhana. Seseorang bercerita tentang rekannya, kemudian cerita tersebut diteruskan kepada orang lain. Tanpa disadari, informasi yang awalnya singkat dapat berkembang menjadi pembicaraan panjang.
Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga ucapan merupakan hal yang penting. Dalam ajaran Islam, seseorang juga diingatkan untuk berhati-hati dalam membicarakan orang lain, terutama ketika pembicaraan tersebut menyangkut sesuatu yang tidak disukai jika diketahui oleh orang yang bersangkutan.
Tidak semua hal yang diketahui harus disampaikan kepada orang lain. Ada informasi yang lebih baik disimpan dan ada pula persoalan yang seharusnya diselesaikan langsung dengan orang yang bersangkutan.
Kebiasaan membicarakan rekan kerja terkadang terasa menyenangkan ketika dilakukan bersama-sama. Tawa dan candaan membuat seseorang lupa bahwa orang yang sedang dibicarakan tidak berada di sana untuk memberikan penjelasan.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh keadaan seseorang hanya dari apa yang terlihat.
Seorang rekan yang sering terlambat mungkin memiliki persoalan yang tidak diketahui orang lain. Seseorang yang terlihat pendiam mungkin sedang menghadapi masalah. Bahkan orang yang dianggap memiliki banyak kekurangan bisa saja mempunyai kebaikan yang tidak pernah terlihat oleh rekan-rekannya.
Karena itu, menilai seseorang hanya dari cerita yang beredar dapat menjadi sesuatu yang tidak adil.
Dalam ajaran agama, menjaga lisan bukan hanya berkaitan dengan berbicara sopan. Menahan diri dari menyebarkan cerita yang tidak perlu juga merupakan bagian dari menjaga hubungan dengan sesama.
Kadang-kadang seseorang begitu berhati-hati menjaga makanan yang masuk ke tubuhnya, tetapi kurang berhati-hati terhadap perkataan yang keluar dari mulutnya.
Padahal, perkataan juga memiliki dampak. Satu kalimat yang dianggap sebagai candaan dapat membuat orang lain merasa malu. Satu cerita yang disampaikan tanpa kepastian dapat merusak kepercayaan. Bahkan pembicaraan yang dianggap sepele dapat menimbulkan hubungan yang renggang.
Bukan berarti setiap percakapan tentang orang lain selalu salah. Ada pembicaraan yang memang diperlukan untuk pekerjaan, menyelesaikan masalah atau mencari solusi. Yang perlu dijaga adalah niat, kebenaran informasi dan dampak dari pembicaraan tersebut.
Jika sebuah cerita tidak membawa manfaat, tidak membantu pekerjaan dan berpotensi menyakiti seseorang, mungkin diam menjadi pilihan yang lebih baik.
Di lingkungan kantor, menjaga lisan juga berarti menjaga suasana kerja. Ketika pegawai saling menghormati dan tidak mudah menyebarkan cerita, rasa percaya akan tumbuh dengan sendirinya.
Sebab, seseorang mungkin bisa melupakan siapa yang pernah membantunya, tetapi belum tentu mudah melupakan orang yang pernah menyebarkan cerita buruk tentang dirinya.
Sebelum membicarakan orang lain, ada baiknya mengingat bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Tidak ada seseorang yang selalu benar dan tidak ada pula yang terbebas dari kesalahan.
Jika ingin mengingatkan, sampaikan dengan cara yang baik. Jika ingin memperbaiki, lakukan dengan niat membantu. Dan jika sebuah persoalan memang tidak perlu dibicarakan, memilih diam terkadang menjadi bentuk kebaikan yang sederhana.
Pada akhirnya, bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dan mendapatkan penghasilan. Cara kita memperlakukan orang lain juga menjadi bagian dari bagaimana kita menjalani kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....