Terapi Air Putih, Manfaat dan Risiko yang Perlu Diperhatikan

  • 03 Okt 2026 23:06 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID , Meulaboh - Minum air putih merupakan salah satu cara sederhana untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Selain memenuhi kebutuhan cairan, konsumsi air putih dalam jumlah yang tepat juga berperan penting dalam membantu berbagai fungsi tubuh, mulai dari pencernaan hingga menjaga suhu tubuh.

Namun, kebiasaan minum air putih dalam jumlah berlebihan, terutama dalam waktu singkat, justru dapat membahayakan kesehatan.

Karena itu, terapi air putih perlu dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan.

Dilansir dari Alodokter, air putih memiliki sejumlah fungsi penting bagi tubuh, seperti membantu melancarkan pencernaan, mengendalikan suhu tubuh, serta mendukung proses metabolisme dan fungsi ginjal.

Secara umum, kebutuhan cairan setiap orang berbeda-beda. Angka sekitar 2 liter atau delapan gelas per hari kerap digunakan sebagai gambaran umum, tetapi kebutuhan sebenarnya dapat dipengaruhi oleh. usia, aktivitas fisik, kondisi lingkungan, serta kondisi kesehatan seseorang.

Mengenal terapi air putih

Terapi air putih umumnya dilakukan dengan minum air setelah bangun tidur ketika perut masih kosong.

Kebiasaan tersebut dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dan memenuhi kebutuhan cairan setelah tubuh tidak mendapatkan asupan selama tidur.

Dalam praktiknya, terapi air putih dilakukan dengan mengonsumsi air secara bertahap pada pagi hari.

Beberapa panduan menyarankan penggunaan air bersuhu normal atau hangat dan menghindari air yang terlalu dingin.

Air dapat diminum menggunakan gelas berukuran sekitar 160 mililiter sebanyak empat hingga lima kali pada pagi hari.

Setelah minum, seseorang dianjurkan menunggu sekitar 45 menit sebelum sarapan.

Meski demikian, tidak semua aturan dalam terapi air putih memiliki bukti ilmiah yang kuat.

Yang lebih penting adalah memastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi tanpa memaksakan diri minum dalam jumlah berlebih.

Pada awal menjalani kebiasaan minum lebih banyak air, seseorang mungkin akan lebih sering buang air kecil. Hal tersebut merupakan respons tubuh dalam membuang kelebihan cairan.

Selain membantu mencegah dehidrasi, asupan cairan yang cukup juga mendukung fungsi berbagai organ tubuh.

Waspadai risiko minum air berlebihan

Di balik manfaatnya, konsumsi air putih secara berlebihan juga memiliki risiko. Ginjal berperan mengatur keseimbangan cairan tubuh dan membuang kelebihan air melalui urine.

Jika air dikonsumsi terlalu banyak dalam waktu singkat, kemampuan ginjal dalam mengeluarkan cairan dapat terlampaui. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kadar natrium dalam darah turun terlalu rendah atau yang dikenal sebagai hiponatremia.

Dalam kondisi berat, gangguan tersebut dapat menyebabkan keracunan air atau intoksikasi air.

Gejalanya dapat berupa mual, muntah, sakit kepala, kram atau kaku otot, hingga gangguan kesadaran dan kejang.

Pada kasus yang parah, pembengkakan otak dapat terjadi dan berpotensi menyebabkan koma.

Karena itu, minum air putih sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, bukan dengan memaksakan jumlah tertentu dalam waktu singkat.

Kapan tubuh membutuhkan lebih banyak air

Kebutuhan cairan dapat meningkat dalam kondisi tertentu. Salah satunya ketika seseorang mengalami aktivitas fisik yang berat atau berada di lingkungan dengan suhu tinggi.

Beberapa kondisi yang membutuhkan perhatian terhadap asupan cairan antara lain.

Kehamilan dan menyusui

Kebutuhan cairan ibu dapat meningkat selama kehamilan dan masa menyusui.

Asupan cairan yang cukup membantu menjaga kondisi tubuh dan mendukung kebutuhan fisiologis selama periode tersebut.

Berolah raga

Aktivitas fisik menyebabkan tubuh kehilangan cairan melalui keringat. Oleh karena itu, asupan cairan perlu disesuaikan sebelum, selama, dan setelah berolahraga.

Untuk olahraga yang berlangsung lama atau dilakukan dengan intensitas tinggi, penggantian elektrolit juga dapat menjadi pertimbangan karena sejumlah elektrolit ikut hilang melalui keringat.

Berada di lingkungan panas

Cuaca atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat meningkatkan produksi keringat. Jika cairan yang hilang tidak digantikan, tubuh berisiko mengalami dehidrasi.

Mengalami muntah diare atau demam

Muntah, diare, dan demam dapat menyebabkan tubuh kehilangan lebih banyak cairan. Dalam kondisi tersebut, kebutuhan cairan perlu diperhatikan untuk membantu mencegah dehidrasi.

Orang dengan infeksi saluran kemih atau kondisi tertentu yang berkaitan dengan batu saluran kemih juga terkadang dianjurkan meningkatkan asupan cairan.

Namun, kebutuhan setiap orang berbeda dan sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Sebaliknya, orang yang mengalami penyakit ginjal, gagal jantung, atau gangguan hati tertentu mungkin justru perlu membatasi asupan cairan.

Karena itu, pasien dengan kondisi tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai jumlah cairan yang aman.

Jangan memaksakan minum air

Memenuhi kebutuhan cairan memang penting, tetapi bukan berarti semakin banyak air yang diminum akan semakin baik bagi tubuh.

Salah satu tanda yang dapat digunakan sebagai gambaran sederhana mengenai status hidrasi adalah warna urine.

Urine yang berwarna kuning pekat dapat menjadi tanda seseorang membutuhkan lebih banyak cairan, meski warna urine juga dapat dipengaruhi oleh makanan, obat, dan kondisi kesehatan.

Sebaliknya, urine yang sangat jernih secara terus-menerus, terutama disertai kebiasaan minum air dalam jumlah besar, dapat menjadi tanda bahwa asupan cairan mungkin terlalu banyak.

Pada akhirnya, kebutuhan air setiap orang berbeda. Minumlah secara teratur sesuai rasa haus, aktivitas, kondisi lingkungan, dan kondisi kesehatan.

Terapi air putih tidak perlu dilakukan secara berlebihan karena keseimbangan cairan tubuh sama pentingnya dengan mencegah kekurangan cairan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....