Mengenal Asal-Usul Gunung Anak Krakatau yang Kembali Erupsi pada September 2026

  • 07 Sep 2026 18:11 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan setelah mengalami rangkaian erupsi pada awal September 2026. Aktivitas vulkanik gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut bahkan berdampak pada penerbangan dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah. Pemerintah melalui Badan Geologi dan BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas gunung tersebut.

Dilansir RRI dari berbagai sumber, di balik erupsi yang kini menjadi perhatian publik, Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah panjang. Gunung ini merupakan bagian dari kompleks vulkanik Krakatau yang terbentuk melalui proses letusan besar selama ratusan hingga ribuan tahun.

  1. Berawal dari Letusan Dahsyat Krakatau 1883

Asal-usul Gunung Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari peristiwa letusan besar Gunung Krakatau pada Agustus 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan membentuk kaldera besar di kawasan Selat Sunda. Material vulkanik dalam jumlah sangat besar terlontar ke atmosfer, sementara runtuhnya tubuh gunung turut memicu tsunami yang menghantam wilayah pesisir Jawa dan Sumatra.

Peristiwa 1883 tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik paling dahsyat dalam sejarah modern. Data geologi mencatat bahwa letusan tersebut menghancurkan sebagian besar kerucut gunung api dan menyisakan beberapa pulau di sekitar kawasan kaldera.

  1. Lahir dari Dasar Laut

Setelah letusan 1883, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut tidak benar-benar berhenti. Selama beberapa dekade, aktivitas magma berlangsung di bawah permukaan laut.

Pada 29 Desember 1927, terjadi erupsi bawah laut yang menjadi awal kemunculan gunung api baru. Material vulkanik kemudian terus menumpuk hingga akhirnya muncul ke permukaan laut. Gunung baru tersebut kemudian dikenal dengan nama Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau secara resmi mulai muncul ke permukaan pada 1927–1929. Sejak saat itu, tubuh gunung terus tumbuh akibat penumpukan material hasil erupsi

  1. Aktif dan Terus Bertumbuh

Sebagai gunung api yang relatif muda, Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas vulkanik hingga sekarang. Erupsi demi erupsi membuat bentuk serta ukuran tubuh gunung terus mengalami perubahan.

Gunung ini juga memiliki catatan penting pada 22 Desember 2018. Aktivitas erupsi menyebabkan sebagian tubuh Anak Krakatau longsor ke laut dan memicu tsunami di kawasan Selat Sunda. Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa dan menjadi salah satu bencana besar yang berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau. G

  1. Kembali Erupsi pada September 2026

Pada September 2026, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat. Erupsi menerus berlangsung selama sekitar 25 jam sebelum fase tersebut berakhir pada 6 September. Setelah itu, aktivitas letusan masih dilaporkan berlanjut secara intermiten.

  1. Kementerian Komunikasi dan Digital+1

Erupsi kali ini juga berdampak luas. Abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah dan mengganggu penerbangan. Pada 7 September 2026, sejumlah bandara masih terdampak abu vulkanik, sementara pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dan menggunakan perlindungan seperti masker ketika berada di wilayah yang terkena abu.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi viral di media sosial. Namun, masyarakat diminta tidak langsung mempercayai setiap video atau informasi yang beredar. Badan Geologi sebelumnya telah menemukan video yang diklaim sebagai erupsi Anak Krakatau tetapi ternyata bukan rekaman erupsi yang sedang terjadi. Informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dapat diperoleh melalui Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia.

  1. Fenomena Alam yang Harus Diwaspadai

Gunung Anak Krakatau bukan sekadar gunung api yang muncul setelah letusan Krakatau 1883. Keberadaannya merupakan bagian dari proses geologi yang masih berlangsung hingga saat ini.

Erupsi September 2026 kembali mengingatkan masyarakat bahwa kawasan Selat Sunda merupakan wilayah dengan aktivitas vulkanik tinggi. Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan terdampak perlu mengikuti arahan pemerintah dan tidak mendekati zona berbahaya.

Gunung Anak Krakatau terus tumbuh dan berubah. Dari kehancuran Krakatau pada 1883, lahir sebuah gunung baru yang hingga kini masih menunjukkan kekuatan alamnya.Mengenal Asal-Usul Gunung Anak Krakatau yang Kembali Erupsi pada September 2026

n kekuatan alamnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....