Pengolahan Limbah Plastik dari Warkop Menjadi Produk Bernilai Jual

  • 23 Agt 2026 12:35 WIB
  •  Meulaboh

RRI. CO.ID , Meulaboh - Tingginya aktivitas nongkrong di berbagai kafe dan warung kopi (warkop) di wilayah Meulaboh, Aceh Barat, berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah plastik.

Menanggapi hal tersebut, Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) Aceh Barat menghadirkan solusi ekonomi sirkular dengan membedah dan memborong limbah plastik jenis cup (gelas) serta botol untuk diolah menjadi produk bernilai jual.

Hal tersebut dipaparkan oleh Ketua GPL Aceh Barat, Fajar Oza Pratama, dalam dialog interaktif Green Radio di RRI Meulaboh.

Fajar menjelaskan bahwa GPL saat ini fokus pada program penjemputan dan pembelian sampah cup serta botol plastik langsung dari tempat-tempat usaha, terutama kafe yang berada di kawasan perkotaan Meulaboh.

Mekanisme Kerja Sama: Dipilah Tanpa Perlu Dicuci, Diberi Wadah Khusus

Untuk memulai pengelolaan sampah di tingkat kafe atau warkop, Fajar mengungkapkan caranya sangat sederhana dan tidak memberatkan pelaku usaha maupun pekerja (waiters).

  1. Pemilahan Dasar: Pihak kafe/warkop cukup memisahkan sampah cup plastik, botol plastik, atau gelas kemasan dari sisa makanan dan sampah organik lainnya.
  2. Tanpa Dicuci: Sampah plastik yang dipilah tidak perlu dicuci terlebih dahulu oleh pihak kafe.
  3. Plastik Penampung Transparan: GPL menyediakan kantong plastik transparan khusus sebagai wadah penampungan sampah terpilah.
  4. Jadwal Penjemputan Rutin: Tim GPL melakukan penjemputan berkala dua kali seminggu, yakni setiap Senin dan Kamis pukul 11.00–12.00 WIB.

"Sampah ini tidak hanya kita minta untuk dipilah, tapi kita beli per kilogram.

Hasilnya langsung dirasakan para pekerja (waiters) kafe. Rata-rata mereka bisa mendapat penghasilan tambahan sekitar Rp50.000 hingga Rp130.000 per minggu dari hasil mengumpulkan sampah cup tersebut," ujar Fajar.

Dari Biji Plastik hingga Kerajinan Tas Belanja

Sampah cup dan botol plastik yang telah dijemput dari kafe selanjutnya dibawa ke fasilitas pemilahan sekunder yang melibatkan kelompok ibu-ibu lokal untuk pemberdayaan ekonomi.

Setelah dipilah berdasarkan jenis bahan, plastik diproses dengan mesin pencacah menjadi biji plastik/cacahan (flakes).

Biji plastik ini kemudian dijual kembali ke industri penampung sebagai bahan baku daur ulang secara rutin setiap bulannya.

Selain menjual bahan baku cacahan, GPL Aceh Barat yang bergerak sejak 2020 ini juga memproduksi berbagai barang kerajinan tangan dari sampah bungkus detergen, kemasan kopi, maupun kantong plastik terolah:

  • Tas Belanja & Dompet
  • Tempat Tisu
  • Kursi Ecobrick

Tantangan Lapangan dan Pentingnya Kolaborasi Pemerintah

Meski program "Kafe Peduli Lingkungan" ini baru berjalan intensif dengan menggandeng sekitar 12 hingga 15 kafe mitra di Meulaboh, Fajar mengaku tantangan di lapangan masih tergolong besar.

Tantangan utama berkisar pada tingkat kesadaran pemilahan yang beragam, ketersediaan fasilitas, serta ketiadaan mesin pencacah khusus untuk jenis plastik kantong kresek. Saat ini GPL mampu mengumpulkan sekitar 50 kg sampah plastik per minggu (atau 200 kg per bulan), dari target awal 1 ton per bulan.

Oleh karena itu, Fajar menekankan pentingnya regulasi tegas dan kolaborasi dari pemerintah daerah.

[Strategi Dorongan Pengelolaan Sampah]

  1. Kesadaran Mandiri warga/pelaku usaha untuk memilah sampah dari sumbernya.
  2. Armada Jemput Khusus dari Pemda untuk sampah terpilah (Organik vs Plastik).
  3. Kolaborasi Komunitas & Pemerintah untuk memperluas jangkauan ke seluruh Warkop/Kafe.

"Sampah ini sebenarnya bukan sekadar limbah atau beban, tetapi punya nilai ekonomi nyata jika mau memilahnya.

Jangan menunggu fasilitas lengkap dulu baru bergerak, tapi mulailah dari kesadaran diri sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan," tutup Fajar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....