"Ranup Meuh Batee" Jadi Ajang Pelestarian Budaya di Samatiga

  • 14 Agt 2026 14:53 WIB
  •  Meulaboh

RRI.Co.ID, Meulaboh - Semangat menjaga adat dan budaya Aceh ditunjukkan TP-PKK Kecamatan Samatiga melalui lomba merangkai ranup meuh batee. Acara digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Kegiatan berlangsung pada Jumat pagi, 14 Agustus 2026, di Aula Kecamatan Samatiga. Sebanyak 32 desa se-Kecamatan Samatiga ambil bagian dalam perlombaan yang untuk pertama kalinya digelar oleh TP-PKK Kecamatan Samatiga dalam bentuk kompetisi.

Ketua TP-PKK Kecamatan Samatiga sekaligus penanggung jawab kegiatan, Nova Mahdianti, AMK, mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk memeriahkan perayaan 17 Agustus. Lebih dari itu, lomba menjadi sarana untuk menjaga tradisi sekaligus mendorong regenerasi pengetahuan budaya Aceh.

“Tujuan kita bukan hanya untuk memeriahkan 17 Agustus, tetapi juga bagaimana tradisi dan budaya Aceh tetap hidup. Kita ingin generasi muda mengenal, memahami, dan memiliki motivasi untuk ikut melestarikannya,” ujar Nova, dalam siaran tertulis disampaikan Muhksin.

Menurut Nova, kegiatan tersebut memberikan sejumlah manfaat, mulai dari meningkatkan kreativitas dan keterampilan peserta hingga mempererat silaturahmi antardesa. Di sisi lain, perlombaan juga membuka ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal praktik budaya yang merupakan bagian dari identitas masyarakat Aceh.

Ia berharap kegiatan merangkai ranup meuh batee dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan sehingga tidak berhenti sebagai kegiatan perayaan tahunan.

“Harapan kita, tradisi ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Jangan sampai adat dan budaya yang menjadi identitas kita hilang karena tidak lagi dikenali oleh generasi muda,” ungkapnya.

Ketua panitia, Roza Nofiana, menyampaikan bahwa keterlibatan 32 desa menunjukkan antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan yang mengangkat unsur adat dan budaya tersebut.

Dalam perlombaan, setiap peserta diberikan waktu dua jam untuk menyelesaikan rangkaian ranup meuh batee. Dewan juri menilai hasil karya berdasarkan lima indikator, yakni kerapian dan keindahan, teknik merangkai, kelengkapan bahan, kreativitas, serta kebersihan.

Pelaksanaan lomba tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap upaya pelestarian budaya di tingkat masyarakat. Keterlibatan berbagai desa juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa pelestarian adat bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tokoh adat, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat dan generasi muda.

Melalui kegiatan ini, TP-PKK Kecamatan Samatiga berharap ranup meuh batee tetap dikenal, dipraktikkan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bagian dari kekayaan adat dan budaya Aceh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....