Mahasiswi STAIN TDM Raih Gold lewat Film Dokumenter Pelestarian Tikar Sike

  • 22 Jul 2026 22:05 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh– Tiga mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Cut Riska, Lindawati, dan Azizah, berhasil meraih penghargaan Gold pada Festival Film Pendek Internasional yang diselenggarakan UIN Imam Bonjol Padang. Prestasi tersebut diraih melalui film dokumenter berjudul Anyaman Terakhir: The Last Keeper of Tikar Sike, yang mengangkat kisah pengrajin Tikar Sike sebagai salah satu warisan budaya Aceh yang mulai ditinggalkan.

Dalam dialog di Pro 2 RRI Meulaboh, Cut Riska menjelaskan bahwa timnya sengaja memilih mengangkat Tikar Sike karena ingin memperkenalkan sekaligus mengajak generasi muda agar lebih peduli terhadap budaya daerah. "Film yang kami buat berbentuk dokumenter. Kami lebih fokus menampilkan pengrajin Tikar Sike agar masyarakat tahu bahwa budaya ini perlu dijaga dan dilestarikan," ujarnya, Rabu 22 juli 2026.

Sebelum tampil di tingkat internasional, tim mereka harus melewati seleksi di tingkat kampus. "Kami satu tim berjumlah tujuh orang, kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Setelah membuat film, kami diseleksi di kampus, dan Alhamdulillah tim kami yang terpilih untuk melanjutkan ke Padang," kata Riska.

Lindawati menambahkan bahwa film tersebut tidak hanya menampilkan proses pembuatan Tikar Sike, tetapi juga pesan mengenai pentingnya menjaga budaya lokal. "Kami melihat Tikar Sike sudah mulai ditinggalkan. Karena itu kami merasa film menjadi media yang tepat untuk menyuarakan persoalan tersebut," jelasnya, Rabu 22 juli 2026.

Kompetisi tersebut diikuti oleh 17 film dari berbagai perguruan tinggi. Lindawati mengaku bersyukur karena timnya berhasil meraih penghargaan Gold. "Alhamdulillah kami mendapatkan Gold. Ada sekitar 17 film yang mengikuti kompetisi ini, dan seluruh delegasi STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh yang mengikuti berbagai cabang lomba juga berhasil membawa pulang penghargaan," katanya.

Di balik keberhasilan itu, Azizah mengungkapkan bahwa proses produksi dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas, bahkan bertepatan dengan pelaksanaan ujian akhir semester. "Kami hanya punya waktu tiga hari untuk menyelesaikan film karena saat itu sedang UAS. Alhamdulillah kami bisa membagi waktu dan saling membantu hingga film selesai," ungkapnya, Rabu 22 juli 2026.

Meski hanya menggunakan telepon genggam sebagai alat utama pengambilan gambar, keterbatasan tersebut tidak menghalangi mereka menghasilkan karya yang mendapat apresiasi dewan juri. "Sebenarnya kampus menyediakan kamera dan tripod, tetapi harus bergantian dengan kelompok lain. Akhirnya kami memanfaatkan handphone agar proses produksi tetap berjalan," ujar Lindawati.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas mahasiswa mampu bersaing di tingkat internasional meski dengan keterbatasan waktu dan peralatan. Prestasi yang diraih ketiga mahasiswi STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, mengembangkan potensi di bidang perfilman, serta memanfaatkan karya audiovisual sebagai media pelestarian budaya lokal agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....