Relasi yang Kurang Baik Orang Tua Anak dan Dampak Psikologis ke Depan
- 26 Jun 2026 15:57 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID,Meulaboh – Pola asuh orang tua terhadap anak di era digital saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Tak jarang, kesenjangan komunikasi memicu konflik horizontal di dalam rumah tangga. Menanggapi fenomena ini, Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh bekerja sama dengan RRI Meulaboh menggelar dialog interaktif dalam program "Indonesia Sehat" untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga relasi sehat antara orang tua dan anak.
Hadir sebagai narasumber, Psikolog Klinis RSUD Cut Nyak Dhien, Diah Pratiwi, S.Psi., M.Sos., membeberkan bahwa banyak konflik bersumber dari ketidaksesuaian antara apa yang diberikan orang tua dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak.
"Terkadang orang tua merasa sudah memberikan yang terbaik, namun anak justru merasa tidak dipahami. Mengapa? Karena setiap anak tumbuh dengan kondisi dan kebutuhan psikologis yang berbeda. Ada anak yang butuh kontrol kuat, ada yang butuh kehangatan ekstra, dan ada pula yang butuh ruang untuk mandiri," ujar Diah.
Diah juga menyoroti adanya kecenderungan orang tua yang belum berdamai dengan luka masa lalu (inner child), sehingga secara tidak sadar meneruskan pola asuh yang salah atau toksik kepada anak-anak mereka.
Dua Waktu Terlarang Memberi Instruksi pada Anak
Dalam dialog tersebut, seorang pendengar bernama Bang Hai turut menceritakan pengalaman masa lalunya di era 80-an, di mana ia menyaksikan anak-anak yang kerap dibentak dan dicaci maki dengan kata-kata kasar oleh orang tuanya tumbuh menjadi pribadi yang mengalami stres berat di masa dewasa.
Merespons hal tersebut, Diah Pratiwi menekankan pentingnya menjaga mood anak pada situasi-situasi krusial. Ia mengungkapkan ada dua waktu yang sangat dilarang bagi orang tua untuk memberikan perintah atau instruksi kepada anak:
Saat anak sedang makan: Memberikan perintah atau teguran saat makan dapat merusak ketenangan psikologis dan berdampak buruk pada fisik anak.
Saat anak sedang tidur atau baru bangun tidur: Orang tua harus memberikan jeda waktu agar fisik dan psikologis anak memiliki kesiapan sebelum menerima instruksi.
"Jika kita hanya memanggil anak ketika ingin menyuruh atau memarahi mereka, maka suara panggilan orang tua akan terekam sebagai peristiwa traumatis. Dampaknya akan dipanen saat orang tua lansia. Ketika orang tua memanggil karena butuh bantuan, anak akan merasa tidak nyaman karena flashback memori masa lalu," jelas Diah.
Dampak Fatal: Dari Depresi hingga Risiko Psikopat
Lebih lanjut, Diah menjelaskan dampak psikologis jangka panjang jika anak terus-menerus dididik dengan kekerasan, ancaman, dan dibanding-bandingkan. Sering kali, anak yang tertekan akan menangis sebagai bentuk terapi emosi alami. Namun, ketika anak dilarang menangis saat dimarahi, emosi negatif tersebut akan mengendap.
"Jika anak tumbuh di lingkungan dengan tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah, tekanan ini bisa memicu depresi. Namun, jika anak tersebut cerdas secara inteligensi dan berhasil meraih posisi atau jabatan yang bagus di masa depan, mereka berisiko tumbuh menjadi pribadi yang Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau bahkan psikopat," tegasnya.
Kondisi tersebut terjadi karena hilangnya empati dan adanya dendam masa lalu yang terpuaskan ketika melihat orang lain merasa sakit atau menderita.
Layanan Konsultasi Psikologi Tersedia di Rumah Sakit
Sementara itu, Kepala Instalasi PKRS RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Emi Hartini, S.K.M., mengimbau masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan mental yang ada di rumah sakit. Ia menegaskan bahwa rumah sakit tidak hanya mengobati penyakit fisik, melainkan juga memfasilitasi pemulihan kesehatan mental masyarakat.
"Mendidik anak di zaman sekarang luar biasa sulit karena banyaknya pengaruh dari gawai dan pergaulan. Kami ingin masyarakat tahu bahwa ruang konsultasi psikologi di RSUD Cut Nyak Dhien terbuka setiap hari. Jika ada stres ringan atau masalah keluarga, silakan datang. Kita butuh orang ketiga profesional sebagai tempat mencurahkan isi hati demi melepaskan persoalan," pungkas Emi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....