Sengaja Begadang demi Me Time, Kenali Revenge Bedtime Procrastination

  • 14 Jun 2026 22:50 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Malam seharusnya menjadi waktu tubuh beristirahat. Namun bagi sebagian anak muda, justru saat itulah kehidupan terasa benar-benar dimulai—menonton satu video lagi, menggulir media sosial tanpa tujuan, atau menikmati “me time” hingga larut. Tanpa disadari, kebiasaan ini memiliki nama: revenge bedtime procrastination.

Fenomena revenge bedtime procrastination semakin banyak dibicarakan di kalangan anak muda sebagai pola sengaja menunda tidur demi mendapatkan waktu pribadi setelah menjalani hari yang padat. Meski terlihat seperti bentuk hadiah untuk diri sendiri, berbagai penelitian menunjukkan kebiasaan ini justru dapat menurunkan kualitas tidur, memengaruhi konsentrasi, hingga mengganggu kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang.

Istilah revenge bedtime procrastination merujuk pada kondisi ketika seseorang secara sadar memilih tetap terjaga meskipun mengetahui tubuh membutuhkan istirahat. Perilaku ini umumnya muncul karena perasaan kehilangan kendali atas waktu di siang hari, sehingga malam dijadikan ruang untuk “mengambil kembali” kebebasan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Interdisciplinary Humanities and Communication Studies menemukan bahwa durasi penggunaan media sosial sebelum tidur berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan melakukan revenge bedtime procrastination. Studi tersebut juga menunjukkan perilaku tersebut berkontribusi terhadap penurunan kualitas tidur dan menciptakan siklus antara kebutuhan hiburan malam dan rasa lelah keesokan harinya.

Fenomena ini juga mendapat perhatian dalam kajian psikologi di Indonesia. Penelitian dalam Jurnal Psikologi Perseptual menjelaskan bahwa rutinitas yang padat dan minimnya waktu untuk diri sendiri menjadi salah satu pemicu utama munculnya perilaku tersebut. Banyak orang merasa malam adalah satu-satunya waktu yang benar-benar menjadi milik mereka.

Sementara itu, penelitian terhadap mahasiswa di Indonesia menunjukkan tingkat bedtime procrastination berada pada kategori tinggi pada sebagian besar responden. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa menunda tidur bukan lagi sekadar kebiasaan sesekali, tetapi mulai menjadi pola perilaku yang berulang.

Secara psikologis, kondisi ini sering kali tidak muncul karena seseorang tidak mengantuk, melainkan karena ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi—mulai dari mencari hiburan, merasa ingin memiliki kontrol atas waktu, hingga keinginan memperpanjang waktu santai sebelum kembali menjalani rutinitas esok hari.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa “membayar” waktu pribadi dengan mengorbankan jam tidur bukan solusi yang berkelanjutan. Kurang tidur secara konsisten dapat berdampak pada energi harian, fokus, suasana hati, dan produktivitas. Beberapa langkah yang disarankan antara lain menetapkan jam tidur yang konsisten, mengurangi paparan layar sebelum tidur, serta menyediakan waktu istirahat singkat atau aktivitas menyenangkan sejak siang atau sore hari agar kebutuhan relaksasi tidak menumpuk di malam hari.

Pada akhirnya, revenge bedtime procrastination bukan tentang kemalasan atau kurang disiplin semata. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan akan waktu pribadi tetap penting, tetapi kualitas istirahat juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan fisik dan mental.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....