Kehangatan Makan Lesehan di Hari Raya Kurban
- 30 Mei 2026 14:13 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh: Idul Adha selalu punya cara sendiri untuk mempererat kebersamaan. Setelah daging kurban dibagikan, tradisi makan lesehan langsung digelar di teras, halaman, hingga mushola. Tikar panjang dibentangkan, piring-piring ditata, dan hidangan khas seperti gulai, sate, hingga tongseng dikeluarkan dari dapur. Satu ekor kambing cukup untuk membuat satu kampung duduk bersama.
Makan lesehan menghilangkan jarak antara tuan rumah dan tamu. Tidak ada kursi tinggi atau meja makan formal. Semua duduk bersila, berhadap-hadapan, saling menyuap cerita dan berbagi lauk. Anak kecil rebutan tulang, orang tua menuang kuah tambahan, dan sesekali tawa pecah saat ada yang tidak sengaja menumpahkan kuah gulai ke sarung. Suasana sederhana inilah yang bikin hari raya terasa hidup.
Menu Idul Adha memang paling pas disantap dengan cara lesehan. Kuah gulai yang kental, daging empuk, dan nasi hangat lebih nikmat dimakan langsung dari piring. Tidak perlu sendok garpu mewah, cukup tangan yang sudah dicuci bersih. Cara makan seperti ini juga membuat porsi jadi lebih terkontrol karena semua ambil secukupnya dan bisa nambah bersama.
Tradisi lesehan saat Idul Adha juga jadi ajang silaturahmi lintas generasi. Kakek, bapak, anak, sampai cucu duduk satu lingkaran. Sambil makan, muncul obrolan ringan: cerita salat Ied tadi pagi, pengalaman motong kurban, sampai rencana berkunjung ke rumah saudara. Meja tanpa kaki justru membuat obrolan jadi lebih dekat dan akrab.
Satu kambing memang tidak bisa mengenyangkan semua orang di dunia, tapi cukup untuk mengenyangkan hati warga satu lingkungan. Tawa, cerita, dan rasa syukur yang dibagikan di atas tikar jauh lebih mengenyangkan daripada lauknya sendiri. Itulah makna Idul Adha: berbagi, berkumpul, dan merayakan kebersamaan dengan cara paling sederhana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....