English Club Hidupkan Seni Retorika dan Debat lewat Isu Sensitif
- 17 Mei 2026 10:41 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID,Meulaboh – Mempelajari bahasa asing sering kali dianggap membosankan jika hanya berpatokan pada rumus tata bahasa (grammar). Namun, sebuah wadah belajar bahasa Inggris yang berawal dari ekstrakurikuler English Club sekolah kini tampil beda dengan nama baru: Rhetoric Room Ensemble. Minggu,(17/5/2026).
(Aga siswa sedang mempresentasikan materi nya)
Resmi mulai mendokumentasikan kegiatannya sejak tahun 2024 bersama para alumni, komunitas ini tidak sekadar mengajarkan speaking, melainkan fokus pada seni retorika dan debat (English debate).
Filosofi Nama ala 'Filosofi Kopi'
Founder sekaligus penggerak komunitas, Linda, mengungkapkan bahwa nama Rhetoric Room Ensemble lahir dari ruang diskusi bersama para siswanya.
"Kami belajar tentang public speaking dan debat bahasa Inggris. Jadi disimpulkan kami itu belajar retorika—seni menggunakan bahasa secara efektif dan persuasif untuk memengaruhi pendengar. Filosofinya dibikin seru, biar kek ala-ala Filosofi Kopi," ujarnya sambil bercanda.

( wabil siswa mempractice kan skill nya)
Metode Unik: Tanpa Template dan 'Memicu Emosi'
Salah satu keunggulan utama dari komunitas ini adalah pendekatannya yang sangat personal. Berbeda dengan tempat kursus konvensional yang memiliki materi kaku, Rhetoric Room Ensemble menerapkan sistem placement test (tes tertulis dan wawancara) di awal pertemuan untuk mengukur kemampuan setiap anak.
Meskipun sempat diikuti hingga 100 siswa, saat ini fokus pembelajaran terasa sangat eksklusif dan intim karena menyisakan sekitar 12 siswa yang memiliki komitmen tinggi untuk hadir.
Ada empat metode utama yang dikombinasikan dalam proses belajar:
Audio-Lingual Method: Fokus pada pengulangan (repetition) dan drilling untuk melatih pengucapan dasar bagi pemula.
Communicative Language Teaching (CLT): Pendekatan modern agar siswa mampu menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi nyata sehari-hari, bukan sekadar teori.
Teacher-Centered: Tetap digunakan secara khusus saat membedah grammar mendalam atau persiapan olimpiade tertulis.
Presentation-Based Learning: Ini merupakan menu utama mereka. Agar presentasi rutin tidak membosankan, Linda kerap memicu emosi dan logika berpikir siswa lewat topik-topik yang memancing perdebatan (trigger topics).
"Kami mainkan topik yang bikin trigger. Contohnya seperti 'AI is actually stupid' (Kecerdasan Buatan itu sebenarnya bodoh) atau 'Matcha itu gak enak karena rasa rumput'. Kita pancing dulu emosinya, baru mereka akan memutar otak untuk menyusun isi presentasinya," jelas Linda.
Konsistensi Tanpa Beban PR
Komunitas ini rutin menggelar pertemuan dua kali seminggu, yaitu pada hari Rabu dan Kamis pukul 15.30 hingga 17.00 WIB (bahkan sering kali molor hingga 17.30 WIB karena antusiasme presentasi siswa).
Menariknya, Rhetoric Room Ensemble berkomitmen untuk tidak memberikan Pekerjaan Rumah (PR) kepada anggotanya, kecuali materi bersambung dari hari Rabu ke Kamis. Kebijakan ini diambil agar para siswa tidak merasa terbebani di tengah padatnya tugas-tugas dari sekolah formal mereka.
Melalui konsistensi latihan presentasi ini, kemampuan dan perkembangan practice mandiri para siswa di rumah akan langsung terlihat secara natural setiap kali mereka tampil di depan kelas. Dengan pendekatan yang interaktif dan adaptif, Rhetoric Room Ensemble membuktikan bahwa belajar bahasa Inggris bisa menjadi ruang yang merdeka, kritis, sekaligus menyenangkan bagi generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....