Ikan Sapu-Sapu Ancam Ekosistem Perairan, Ini Penjelasan Ilmiahnya

  • 19 Apr 2026 22:54 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Keberadaan ikan sapu-sapu (Loricariidae) di perairan Indonesia terbukti berbahaya bagi ekosistem karena bersifat invasif, merusak habitat, serta mengancam kelangsungan spesies ikan lokal, berdasarkan sejumlah penelitian ilmiah dan kajian lembaga riset.

Ikan yang dikenal sebagai pembersih akuarium ini, secara ilmiah termasuk genus Pterygoplichthys, justru menjadi masalah serius ketika dilepas ke alam liar. Spesies ini mampu berkembang biak dengan cepat dan mendominasi perairan, sehingga mengganggu keseimbangan ekologi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut peningkatan populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung menunjukkan dominasi spesies invasif yang mampu menggeser komposisi ikan lokal. Penelitian BRIN tahun 2023–2024 mencatat ikan sapu-sapu termasuk salah satu spesies dengan kelimpahan tertinggi di sungai tersebut

Secara ekologis, perilaku ikan sapu-sapu yang menggali dasar perairan menyebabkan sedimen terangkat ke permukaan. Hal ini meningkatkan kekeruhan air dan menghambat penetrasi cahaya matahari, sehingga mengganggu proses fotosintesis tumbuhan air yang penting bagi produksi oksigen.

Dampak lainnya adalah percepatan pendangkalan sungai dan danau akibat akumulasi sedimen. Kondisi tersebut dapat menurunkan kapasitas tampung air dan berpotensi meningkatkan risiko banjir di wilayah sekitar.

Selain merusak habitat, ikan sapu-sapu juga berkompetisi dengan ikan lokal dalam memperoleh makanan. Dalam beberapa kasus, keberadaannya membuat spesies asli kesulitan bertahan hidup, bahkan berpotensi mengalami penurunan populasi.

Dalam kajian ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Zoological Studies, invasi global ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) disebut berdampak luas terhadap keanekaragaman hayati dan ekonomi masyarakat perairan.

Penelitian lain dalam jurnal nasional juga mengkategorikan ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif yang mendominasi perairan tertentu di Indonesia, seperti Sungai Ciliwung dan Danau Sidenreng. Dominasi ini menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi yang menjadi faktor utama kerusakan ekosistem.

Dengan berbagai dampak tersebut, para ahli menegaskan bahwa pelepasan ikan sapu-sapu ke perairan umum harus dihindari. Upaya pengendalian populasi dan edukasi masyarakat menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....