Mengenal Bahaya Tersembunyi Jerebu Sisa Kebakaran Hutan

  • 27 Jan 2026 08:16 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh : Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak hanya meninggalkan abu di tanah, tetapi juga menyisakan jerebu (kabut asap pekat) yang membawa ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang. Meski api telah padam, partikel halus yang menggantung di udara tetap menjadi "pembunuh senyap" bagi masyarakat di sekitar lokasi terdampak.

1. Apa yang Membuat Jerebu Berbahaya?

Jerebu hasil karhutla bukan sekadar asap biasa. Di dalamnya terkandung campuran gas berbahaya dan partikel padat yang sangat kecil, di antaranya.

Particulate Matter (PM)

Partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah.

Karbon Monoksida (CO)

Gas yang tidak berbau namun dapat mengurangi suplai oksigen ke jantung dan otak.

Senyawa Organik Volatil (VOC)

Zat kimia yang dapat memicu iritasi mata dan tenggorokan hingga risiko kanker.

2. Dampak Kesehatan yang Mengintai

Menurut para ahli medis, paparan jerebu dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari yang ringan hingga fatal:

Gangguan Pernapasan Akut (ISPA)

Gejala berupa batuk, sesak napas, dan nyeri tenggorokan.

Eksaserbasi Penyakit Kronis

Penderita asma dan bronkitis akan mengalami kekambuhan yang lebih sering dan berat.

Kesehatan Jantung

Paparan PM2.5 meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke karena memicu peradangan sistemik.

Dampak pada Anak & Lansia

Kelompok rentan ini berisiko mengalami penurunan fungsi paru-paru yang permanen jika terpapar terus-menerus.

Partikel PM2.5 dalam asap karhutla jauh lebih beracun dibandingkan asap kendaraan karena mengandung sisa pembakaran organik dan gambut yang kompleks.

3. Langkah Proteksi Mandiri

Masyarakat dihimbau untuk tidak meremehkan kabut asap yang masih terlihat tipis. Berikut adalah langkah pencegahan yang disarankan.

Langkah tindakan yang disarankan adalah menggunakan masker standar N95 (masker kain biasa tidak cukup menyaring PM2.5).

Batasi kegiatan di luar ruangan, terutama saat indeks kualitas udara (AQI) menunjukkan kategori tidak sehat.

Tutup ventilasi rumah dan gunakan air purifier (penjernih udara) jika memungkinkan.

Perbanyak minum air putih untuk membantu tubuh mengeluarkan racun melalui proses alami.

Pemerintah terus berupaya melakukan pemadaman titik api tersisa dan melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala. Masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas atau iritasi mata yang parah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....