Sejarah Sarung di Indonesia Dari Kain Pedagang Gujarat

  • 06 Des 2025 08:35 WIB
  •  Meulaboh

KBRN Meulaboh: Sarung, sepotong kain panjang yang dililitkan di pinggang dan menjadi pakaian sehari-hari, ibadah, hingga adat di Indonesia, ternyata memiliki sejarah panjang yang membentang melintasi benua. Meskipun kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Nusantara, sarung bukanlah pakaian asli Indonesia, melainkan dibawa oleh para pedagang dan penyebar agama dari luar. Sabtu,(6/12/2026).

Kedatangan Sarung dari Arab dan India

Sarung diperkirakan pertama kali masuk ke wilayah Nusantara sekitar abad ke-14 hingga ke-15 Masehi, bersamaan dengan masuknya Islam melalui jalur perdagangan.

Jalur Perdagangan: Para pedagang dari Arab (khususnya Yaman, yang mengenal sarung sebagai izaar atau wazaar) dan Gujarat, India, membawa serta kain panjang ini ke pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.

Praktis dan Islami: Sarung yang praktis, adem, dan cocok dengan iklim tropis, dengan cepat diterima oleh masyarakat pesisir. Bagi para pedagang Muslim, sarung juga dikenakan sebagai penutup aurat yang sopan saat beribadah, sebuah praktik yang kemudian diadopsi oleh penduduk lokal.

Simbol Status Sosial di Awal Penyebaran

Menariknya, pada masa awal kedatangannya, sarung bukanlah pakaian yang dapat dipakai oleh semua kalangan.

Pakaian Bangsawan: Awalnya, sarung tenun yang mewah dan rumit hanya digunakan oleh kaum bangsawan dan pedagang kaya. Hal ini disebabkan karena proses pembuatan tenun yang memakan waktu lama, serta penggunaan bahan dan pewarna alami yang langka, menjadikannya simbol kemakmuran dan status sosial.

Pengembangan Lokal: Seiring waktu, sarung mulai menyebar ke seluruh Nusantara. Setiap daerah kemudian mengembangkannya dengan corak khas, seperti sarung batik di Jawa dengan motif filosofisnya yang mendalam, atau sarung tenun Bugis (lipa' sabbe) dan Sumatra (songket).

Transformasi Menjadi Simbol Perlawanan dan Jati Diri

Pada masa kolonial, sarung mengalami pergeseran makna yang signifikan, berubah menjadi simbol perlawanan budaya dan identitas bangsa.

Menolak Barat: Ketika penjajah Belanda memperkenalkan pakaian model Eropa, banyak tokoh nasionalis dan ulama, seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, tetap konsisten menggunakan sarung. Sikap ini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya Barat dan penegasan harkat dan martabat bangsa.

Identitas Santri: Sarung menjadi identitas yang melekat pada para santri yang belajar di pesantren. Sarung melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kebersamaan yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam dan budaya pesantren.

Sarung Masa Kini: Kebanggaan Budaya Nasional

Hingga kini, sarung terus berevolusi. Ia tidak hanya digunakan untuk salat dan acara adat, tetapi juga masuk ke ranah mode kontemporer.

Hari Sarung Nasional: Pada tahun 2019, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 3 Maret sebagai Hari Sarung Nasional. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sarung sebagai warisan budaya dan kebanggaan nasional.

Busana Resmi: Sarung kini kerap dipadukan dengan busana modern dalam acara formal, menunjukkan bagaimana warisan tekstil tradisional tetap relevan dan mampu beradaptasi di tengah perkembangan zaman.

Sarung, dengan sejarahnya yang kaya, telah melampaui fungsinya sebagai selembar kain. Ia adalah cerminan dari akulturasi budaya yang dinamis dan simbol jati diri bangsa Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....