USK, UNP dan UB Kembangkan Sistem Peringatan Dini Bencana di Malalak

  • 16 Sep 2026 11:26 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Brawijaya mengembangkan sistem peringatan dini bencana berbasis teknologi di Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sistem tersebut dirancang untuk membantu pemerintah nagari dan masyarakat memantau potensi bencana hidrometeorologi secara lebih cepat.

Pengembangan sistem dilakukan melalui Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 Skema B, dengan menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT) dan data geospasial.

Salah satu teknologi yang diterapkan yakni Automatic Water Level Recorder (AWLR) untuk memantau perubahan tinggi muka air sungai. Data tersebut kemudian dipadukan dengan informasi curah hujan dan ditampilkan melalui dasbor berbasis Web Geographic Information System (Web-GIS).

Tim USK, UNP dan UB melaksanakan kegiatan penguatan ketangguhan masyarakat tersebut pada Senin 14 September 2026. Kegiatan juga diisi dengan edukasi mengenai tanda-tanda ancaman bencana hidrometeorologi, tingkatan status peringatan, jalur penyebaran informasi hingga langkah penyelamatan keluarga.

Tim dari USK, Freddy Sapta Wirandha, mengatakan teknologi yang diterapkan diharapkan dapat menyediakan informasi kondisi lingkungan secara cepat sehingga masyarakat dan pemerintah nagari dapat mengambil langkah lebih awal ketika terdapat potensi ancaman bencana.

“Melalui sistem pemantauan yang terintegrasi ini, kita berupaya menghadirkan solusi nyata di tingkat lokal. Kehadiran teknologi seperti Automatic Water Level Recorder dan Web-GIS diharapkan mampu memberikan data yang cepat dan akurat, sehingga pemerintah nagari bersama masyarakat dapat mengenali potensi ancaman bencana secara lebih dini,” ujar Freddy.

Pengembangan sistem tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geografis Nagari Malalak yang berada di kawasan daerah aliran sungai dengan lereng curam. Wilayah itu juga memiliki kerentanan terhadap banjir bandang, longsor, galodo dan cuaca ekstrem.

Pasca bencana hidrometeorologi pada 2025, kebutuhan terhadap sistem pemantauan lokal yang mampu menyediakan informasi secara cepat dan mudah dipahami menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut.

Selain pemasangan dan pemanfaatan teknologi, masyarakat juga dilibatkan melalui diskusi dan edukasi agar mampu memahami informasi peringatan serta menentukan tindakan ketika status ancaman meningkat.

Kegiatan melibatkan perangkat Nagari Malalak Timur, Penggerak Peduli Bencana, PKK, pemuda, Paga Nagari, Kerapatan Adat Nagari, Badan Musyawarah Nagari, serta unsur ninik mamak dan cadiak pandai.

Freddy menegaskan, pemanfaatan teknologi perlu diikuti keterlibatan masyarakat agar sistem peringatan dini dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Teknologi canggih apa pun yang kita hadirkan tidak akan berjalan optimal tanpa adanya keterlibatan aktif dari masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan partisipatif melalui edukasi dan diskusi bersama warga ini menjadi kunci agar sistem yang dibangun dapat dikelola secara mandiri, berkelanjutan, dan benar-benar melindungi keselamatan warga Nagari Malalak Timur,” tambahnya.

Kegiatan ditutup dengan diskusi dan tanya jawab antara tim pengabdi dengan masyarakat untuk memastikan teknologi yang diterapkan dapat menyesuaikan kebutuhan serta kondisi lokal Nagari Malalak Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....