BPBD Aceh Barat Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Karhutla dan Kekeringan
- 22 Agt 2026 12:20 WIB
- Meulaboh
Poin Utama
- BPBD Aceh Barat mengajak semua pihak memperkuat kesiapsiagaan menghadapi El Nino Godzilla
- Kemungkinan ancaman bencana terjadi adalah Karhutla, kekeringan, kebakaran permukiman
RRI.CO.ID, Meulaboh - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan ekstrem. Kesiapsiagaan ini penting menyusul meningkatnya titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald N., SP., M.I.L, mengatakan berdasarkan peta sebaran hotspot yang dikeluarkan laman Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per 21 Agustus 2026, sejumlah wilayah Indonesia saat ini menghadapi ancaman Karhutla dan kekeringan.
"Ancaman iklim ekstrem dan Karhutla bukan lagi sekadar potensi. Kita melihat kondisi di sejumlah wilayah Indonesia yang saat ini mulai berjuang menghadapi kepungan asap Karhutla dan kekeringan ekstrem,” ujar Ronald.
Meski kondisi cuaca di wilayah Aceh Barat masih relatif aman dan kondusif, situasi tersebut dinilai menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan seluruh unsur penanggulangan bencana.
Menurutnya, kondisi Aceh Barat yang masih relatif aman harus dimanfaatkan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan memastikan seluruh sumber daya penanggulangan bencana berada dalam kondisi siap digunakan.
BPBD Aceh Barat meminta seluruh unsur terkait meningkatkan patroli dan pemantauan titik panas, terutama di wilayah yang memiliki kawasan gambut serta lahan kering yang rawan terbakar.
"Pencegahan dini menjadi kunci utama. Kita perlu meningkatkan intensitas pemantauan wilayah rawan secara real-time sehingga apabila ditemukan indikasi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti,” katanya.
Selain pemantauan, BPBD juga mengingatkan seluruh pihak untuk memastikan kesiapan peralatan penanggulangan Karhutla. Mesin pompa air, selang, kendaraan operasional dan peralatan pendukung lainnya harus diperiksa secara berkala agar tidak mengalami kendala ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Ronald juga menekankan pentingnya penguatan koordinasi lintas sektor. Sinergi antara TNI, Polri, BMKG, KPH Wilayah IV, aparatur kecamatan dan gampong, UKM PK-UTU, masyarakat peduli api, REDKAR, BPBD serta media massa dinilai menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan bencana.
Kita harus terus memperkuat sinergitas yang selama ini sudah terbentuk di Aceh Barat. Setiap informasi mengenai potensi ancaman maupun kejadian di lapangan harus dapat segera dibagikan dan ditindaklanjuti bersama,” ujarnya.
BPBD Aceh Barat juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif mencegah terjadinya Karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan, meskipun dalam skala kecil.
Selain itu, masyarakat diminta menggunakan sumber air bersih secara bijak sebagai langkah antisipasi apabila kondisi kekeringan ekstrem terjadi.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan sekecil apa pun dan menghemat penggunaan sumber air bersih secara bijak. Upaya pencegahan harus dilakukan bersama karena keselamatan masyarakat merupakan tanggung jawab kita semua,” tegas Ronald.
Ia berharap seluruh kegiatan patroli, penyebaran imbauan kepada masyarakat dan pemeriksaan kesiapan peralatan dapat menjadi langkah nyata dalam menghadapi potensi bencana Karhutla dan kekeringan di Aceh Barat.
Setiap patroli yang dilakukan, setiap imbauan yang disampaikan dan setiap kesiapan teknis yang kita pastikan merupakan wujud nyata ikhtiar kita untuk keselamatan warga Aceh Barat," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....