Agriconnect.Click, Startup Mahasiswa UTU Pangkas Rantai Distribusi Pangan
- 13 Agt 2026 16:16 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Rantai distribusi yang panjang masih menjadi salah satu tantangan dalam pemasaran hasil pertanian. Kondisi itu mendorong mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Teuku Umar (UTU) menciptakan Agriconnect, startup yang dirancang untuk mempertemukan petani, konsumen dan UMKM melalui teknologi digital.
Gagasan tersebut lahir dari pengalaman Cut Fitri Warahmah, mahasiswa Agribisnis UTU sekaligus penggagas Agriconnect, yang melihat adanya kesenjangan harga antara tingkat petani dan konsumen.
Cut mengatakan, hasil pertanian dapat melewati sejumlah mata rantai sebelum sampai kepada konsumen, mulai dari tengkulak hingga distributor. Panjangnya rantai tersebut dinilai membuat petani tidak selalu memperoleh harga terbaik, sementara konsumen harus membayar lebih mahal.
“Kenapa enggak kita potong aja rantai distribusinya? Langsung aja dari petani ke konsumen,” ujar Cut dalam program Sore Ceria RRI Meulaboh.
Menurutnya, pemikiran tersebut kemudian dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi dan menggandeng mahasiswa dari sejumlah bidang, termasuk teknik informatika, bisnis digital dan komunikasi.
Agriconnect pada awalnya dikembangkan dalam bentuk website. Namun, melihat kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital yang lebih praktis, tim kemudian mengembangkan konsep tersebut menjadi aplikasi yang diberi nama Yuk Makan.
Aplikasi itu nantinya memungkinkan pengguna mendaftar sebagai penjual, pembeli maupun pengemudi atau driver. Kehadiran driver juga membuka peluang bagi masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk mendapatkan penghasilan tambahan melalui layanan pengantaran.
Cut menjelaskan, aplikasi Yuk Makan masih dalam tahap persiapan peluncuran. Dalam pembahasan tersebut disebutkan, aplikasi ditargetkan siap digunakan pada 25 Agustus 2026.
Tidak hanya menyasar transaksi makanan, Agriconnect juga memiliki visi yang lebih luas dalam membantu pemasaran produk pertanian, peternakan, perikanan hingga UMKM yang bergerak di bidang makanan dan minuman.
Tim Agriconnect juga tengah membangun peluang pemasaran bagi mitra yang memiliki hasil pertanian dalam jumlah besar. Pendampingan yang direncanakan mencakup inovasi produk, kemasan, legalitas hingga pengujian produk agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Dosen Program Studi Agribisnis UTU sekaligus pembimbing lapangan Agriconnect, Muhammad Reza Aulia, mengatakan ide tersebut pertama kali disampaikan Cut setelah mengikuti mata kuliah inovasi agribisnis.
Ia kemudian mendorong gagasan tersebut untuk dikembangkan melalui proposal pendanaan. Agriconnect selanjutnya memperoleh pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Sementara itu, mahasiswa Agribisnis UTU, Murni Tridjuanda Asmar, yang bergabung dalam Agriconnect sekitar enam bulan terakhir, menilai pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam menarik generasi muda untuk kembali melihat pertanian sebagai sektor yang memiliki peluang.
Bagi Murni, inovasi seharusnya lahir dari persoalan yang ditemukan di masyarakat. Karena itu, mahasiswa tidak perlu menunggu sebuah ide menjadi sempurna sebelum menyampaikannya.
Reza juga mengingatkan mahasiswa agar tidak melihat pertanian semata dari sisi keuntungan ekonomi. Menurutnya, pangan merupakan kebutuhan mendasar sehingga regenerasi petani menjadi hal penting untuk menjaga ketahanan pangan daerah.
“Paling tidak kita bisa swasembada pangan untuk Aceh Barat,” katanya.
Agriconnect menjadi contoh bahwa teknologi dapat dipadukan dengan sektor pertanian untuk menjawab persoalan distribusi sekaligus membuka peluang baru bagi petani, UMKM, konsumen dan generasi muda. Bagi para penggagasnya, inovasi tidak harus menunggu sempurna, tetapi perlu dimulai, disampaikan dan direalisasikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....