Anak Berhak Bermimpi Tinggi, tanpa Batasan Gender

  • 24 Jul 2026 21:49 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Anak perempuan dan laki-laki memiliki hak yang setara untuk mengembangkan potensi dan mengejar cita-cita tanpa dibatasi oleh norma maupun stereotip gender. Pesan tersebut menjadi semakin relevan dalam peringatan Hari Anak Nasional yang mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung setiap anak tumbuh sesuai kemampuan terbaiknya.

Prinsip kesetaraan tersebut juga sejalan dengan hak anak yang diatur dalam berbagai instrumen internasional maupun nasional, yakni setiap anak berhak memperoleh pendidikan, perlindungan, serta kesempatan yang sama untuk berkembang. Kesempatan itu mencakup kebebasan memilih bidang pendidikan, profesi, hingga impian yang ingin diwujudkan tanpa diskriminasi.

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menegaskan bahwa kesetaraan gender dalam pendidikan berarti seluruh peserta didik, baik perempuan maupun laki-laki, harus memperoleh akses, perlakuan, sumber daya, dan perlindungan yang setara. Kesetaraan bukan berarti mengutamakan salah satu kelompok, melainkan memastikan semua anak memiliki peluang yang sama untuk berhasil.

UNICEF juga menilai bahwa investasi terhadap pendidikan anak perempuan membawa manfaat luas bagi keluarga, masyarakat, hingga pembangunan ekonomi. Namun, UNICEF menekankan bahwa kesetaraan gender dalam pendidikan pada akhirnya menguntungkan semua anak, termasuk anak laki-laki, karena menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, aman, dan bebas dari diskriminasi.

Di sisi lain, UNESCO mengingatkan bahwa tantangan pendidikan tidak hanya dialami anak perempuan. Dalam sejumlah negara, anak laki-laki justru menghadapi risiko lebih tinggi putus sekolah, tertinggal dalam pembelajaran, hingga gagal menyelesaikan pendidikan. Karena itu, pendekatan kesetaraan harus memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal hanya karena konstruksi sosial mengenai gender.

Stereotip gender sejak usia dini masih menjadi tantangan nyata. Anak perempuan kerap diarahkan pada profesi yang dianggap "feminin", sementara anak laki-laki didorong memilih pekerjaan yang identik dengan maskulinitas. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa minat, kreativitas, dan kemampuan anak berkembang melalui pengalaman, dukungan keluarga, lingkungan sekolah, serta kesempatan belajar yang terbuka.

Para pendidik menilai peran orang tua menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan diri anak. Dukungan sederhana seperti memberi ruang bagi anak memilih hobi, tidak membatasi permainan berdasarkan gender, hingga memberikan apresiasi atas usaha yang dilakukan dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berani mengejar impian.

Sekolah juga memiliki peran strategis melalui pembelajaran yang inklusif, pemberian kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, kegiatan sains, olahraga, seni, maupun teknologi. Dengan demikian, anak perempuan maupun laki-laki dapat mengembangkan kemampuan sesuai minatnya tanpa merasa dibatasi oleh stigma sosial.

Membangun budaya yang mendukung kesetaraan sejak dini juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Ketika seluruh anak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berinovasi, dan berkarya, mereka akan menjadi generasi yang mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Pada akhirnya, setiap anak berhak bermimpi setinggi mungkin. Tugas keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah adalah memastikan tidak ada mimpi yang terhenti hanya karena anak itu lahir sebagai perempuan atau laki-laki. Kesempatan yang setara hari ini akan melahirkan generasi yang lebih adil, percaya diri, dan siap membangun masa depan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....