Hari Bumi 2026, Aktivis Soroti Ancaman Mikroplastik di Sungai
- 23 Apr 2026 19:19 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh- Peringatan Hari Bumi 2026 menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kondisi lingkungan, khususnya di Aceh. Hal ini disampaikan oleh aktivis pariwisata dan lingkungan hidup, Tonicko Anggara, dalam program Sore Ceria RRI Meulaboh, Kamis 23 April 2026.
Ia menyoroti ancaman mikroplastik yang kini telah mencemari aliran sungai khususnya di Aceh. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, umumnya kurang dari 5 milimeter, yang berasal dari degradasi sampah plastik seperti botol, kantong plastik, hingga limbah rumah tangga.
Tonicko menjelaskan bahwa mikroplastik dapat dikonsumsi oleh ikan yang mengira partikel tersebut sebagai plankton. Akibatnya, mikroplastik masuk ke dalam rantai makanan dan berpotensi dikonsumsi manusia.
“Secara tidak langsung kita mengonsumsi mikroplastik dari ikan yang hidup di perairan tercemar,” ujarnya Kamis 23 April 2026.
Temuan ilmiah juga memperkuat kekhawatiran tersebut. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology berjudul “Detection and Analysis of Microplastics in Human Sputum” menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan dalam saluran pernapasan manusia, menandakan partikel ini dapat masuk ke tubuh melalui udara yang dihirup.
Selain itu, studi lain yang dipublikasikan dalam jurnal Environment International berjudul “Discovery and quantification of plastic particle pollution in human blood” (Leslie et al., 2022) mengungkapkan bahwa mikroplastik juga terdeteksi dalam darah manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan mikroplastik telah mencapai tingkat yang lebih luas dan sulit dihindari.
Para peneliti menyebutkan bahwa mikroplastik dapat masuk ke tubuh melalui berbagai jalur, mulai dari makanan, air minum, hingga udara. Dalam jangka panjang, paparan ini dikhawatirkan dapat memicu gangguan kesehatan, seperti peradangan, gangguan hormon, hingga risiko penyakit kronis lainnya, meskipun penelitian lanjutan masih terus dilakukan.
Tonicko menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius, mengingat kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai masih cukup tinggi di masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa sumber utama mikroplastik berasal dari aktivitas sehari-hari, termasuk pembuangan sampah sembarangan dan kurangnya pengelolaan limbah yang baik.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, seperti botol air minum kemasan, kantong plastik, dan kemasan sekali pakai lainnya.
Selain itu, langkah sederhana seperti membawa tumbler, menggunakan tas belanja ramah lingkungan, serta memilah sampah dinilai dapat membantu mengurangi pencemaran plastik di lingkungan.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan ancaman mikroplastik dapat ditekan dan kualitas lingkungan, khususnya sumber air, tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....