Kelapa Tua Jadi Primadona, Harganya Kian Menyala

  • 13 Apr 2026 22:28 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID,Meulaboh-Memasuki April 2026, harga kelapa tua di pasar domestik terpantau masih bertahan di level yang cukup tinggi atau "fantastis" dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tren kenaikan yang dimulai sejak akhir 2025 ini dipicu oleh kombinasi antara kelangkaan pasokan di tingkat lokal serta masifnya permintaan ekspor ke luar negeri. Kondisi ini membuat kelapa tua kini menjadi komoditas primadona yang harganya terus membara, memaksa para konsumen untuk menyesuaikan anggaran belanja mereka.

Tingginya harga ini memberikan dampak langsung bagi para pelaku UMKM, terutama mereka yang bergerak di bidang kuliner seperti pedagang nasi padang dan katering. Banyak pengusaha mikro yang sempat terkejut dengan lonjakan harga ini karena santan merupakan bahan baku utama yang sulit digantikan. Meskipun beberapa konsumen mulai melirik santan kemasan sebagai alternatif, sebagian besar tetap bertahan pada kelapa segar demi menjaga cita rasa autentik masakan mereka.

Neni, salah seorang pelaku usaha katering yang diwawancarai RRI, mengakui bahwa fluktuasi harga ini sempat membuatnya kewalahan di awal masa kenaikan. "Awalnya memang agak syok dan susah menyesuaikan modal, tapi sekarang sudah mulai terbiasa dan bisa kami kondisikan," ungkapnya. Strategi efisiensi dan penyesuaian porsi menjadi kunci agar bisnis tetap berjalan tanpa harus menaikkan harga jual secara ekstrem kepada pelanggan.

Di sisi lain RRI juga mewawancarai petani kelapa, tingginya harga pasar ternyata membawa angin segar bagi para petani kelapa. Jauhari, seorang petani kelapa, menyatakan rasa syukur dan bahagianya atas situasi saat ini. Menurutnya, kenaikan ini adalah bentuk apresiasi terhadap jerih payah petani yang selama ini sering dihargai rendah. "Dulu kelapa tua hanya diambil dari petani seharga Rp2.000 per butir, sekarang sudah tembus Rp4.000. Kami sangat bersyukur dengan nilai tersebut," ujar Jauhari dengan penuh semangat.

Fenomena "semakin tua semakin menyala" pada harga kelapa ini menciptakan keseimbangan baru dalam ekosistem ekonomi kelapa. Meskipun konsumen dan pedagang harus merogoh kocek lebih dalam, kenaikan ini memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi petani di hulu. Harapannya, stabilitas harga yang menguntungkan semua pihak dapat terus terjaga melalui tata kelola distribusi yang lebih baik agar produktivitas kelapa nasional tetap berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....