Anak Mendadak Demam Tinggi? Jangan Panik, Lakukan C-E-K sebelum Pilih Obat
- 30 Apr 2026 17:56 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan: Ketika suhu tubuh anak tiba-tiba naik, wajar sekali kalau anda langsung panik. Apalagi, demam kerap dianggap sebagai pertanda masalah kesehatan serius, seperti demam berdarah, pneumonia, dan tipes. Di sisi lain, demam juga kerap membuat anak jadi rewel dan nggak nyaman.
Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua kondisi demam pada anak berbahaya. Demam justru menandakan kalau sistem imun tengah melawan infeksi yang terjadi di dalam tubuh.
Jadi, saat si Kecil mengalami demam, anda tidak disarankan langsung memberikannya obat penurun panas, yang penting adalah anda tahu cara mengatasi anak demam tinggi dengan tepat, karena tidak semua kondisi demam berbahaya dan harus segera diturunkan.
Lakukan Observasi "C-E-K" Dulu!
Sebelum buru-buru memberikan obat penurun panas atau membawa anak ke dokter, periksa si Kecil terlebih dahulu dengan menggunakan metode C-E-K, dilansir dari alodokter.com, berikut ini untuk melihat apakah demam anak tergolong demam biasa atau disertai gejala lain:
- Ciri fisik anak
Amati kondisi fisik anak secara menyeluruh, mulai dari wajah, kulit, hingga gerak-geriknya. Perhatikan apakah wajah anak terlihat pucat atau kemerahan, mata sayu, bengkak pada tenggorokan, atau sakit menelan. Jika wajahnya tampak pucat atau kemerahan tanpa disertai bengkak di tenggorokan dan nyeri saat menelan, biasanya demam anak tidak disebabkan gangguan serius dan biasanya dapat dipantau di rumah.
Namun, jika beberapa area tubuh si Kecil, seperti tenggorokan, gigi, dan gusi, anak tampak bengkak atau ia menolak makan dan minum karena nyeri atau radang pada tenggorokannya, itu artinya demam anak disebabkan oleh kondisi lebih serius.
Selain itu, ukurlah suhu tubuh si Kecil. Namun, agar hasilnya akurat, pastikan anda mengecek suhu tubuh anak dengan termometer digital, bukan hanya dengan meraba dahi ya. Demam ringan biasanya bersuhu 37,5–38°C, demam sedang 38,1–39°C, dan demam tinggi di atas 39°C.
Selain itu, catat dan perhatikan juga apakah napas anak jadi lebih cepat, matanya sayu, bibirnya kering, dan lidahnya tampak pecah-pecah. Jika iya, hal itu bisa menandakan bahwa si Kecil kekurangan cairan akibat demam (dehidrasi). Perhatikan juga apakah kulit dan bibir anak tampak kebiruan, karena ini bisa menjadi gejala kurang oksigen (hipoksia).
- Ekspresi anak
Setelah mengamati ciri fisik anak, penting untuk memperhatikan ekspresi dan perilaku anak. Pasalnya, evaluasi ini membantu menentukan apakah demam masih tergolong ringan atau perlu mendapat penanganan medis.
Nah, anak yang tampak sedikit lemas, tetapi masih aktif, mau bermain, tertawa, berbicara, atau merespons ketika dipanggil, biasanya tidak mengalami gangguan serius.
Sebaliknya, jika anak menjadi lebih pendiam, sering merengek atau rewel tanpa sebab yang jelas, sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum sama sekali, ini bisa menandakan kondisinya lebih parah dan membutuhkan penanganan medis.
- Keluhan badan
Jika anak sudah bisa bicara, coba tanyakan secara langsung pada anak tentang apa yang ia rasakan. Bila anak belum bisa bicara, lakukan observasi dari gerak-gerik dan raut wajahnya.
Demam akibat infeksi biasanya disertai keluhan lain, misalnya:
• Sakit kepala, anak sering memegang kepala atau meringis.
• Nyeri otot atau sendi sehingga malas bergerak.
• Sakit tenggorokan, suara serak, atau menolak makan atau minum karena sulit menelan makanan atau minuman.
• Nyeri telinga, sering menggaruk-garuk telinga atau menangis saat disentuh bagian telinganya.
• Sakit perut, mual, muntah, atau diare.
Jika keluhan lain relatif ringan, misalnya meriang, sumeng, dan sedikit nyeri tetapi anak masih mau minum dan makan, biasanya demam dapat dipantau di rumah. Namun, bila anak mengeluh badannya terasa nyeri dan ngilu, sering muntah, tidak mau minum dan makan, atau tampak gejala lain yang berat, seperti sesak napas, kejang, atau diare berat, segera konsultasikan ke dokter.
Dengan melakukan cara mengatasi anak demam tinggi ini, Bunda dan Ayah pun dapat membuat keputusan yang lebih tepat kapan harus memberikan obat, kapan cukup observasi, dan kapan butuh bantuan dokter.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....