Ketika Kesehatan Mental Ancam Generasi Muda, JKN Hadir Menjaga Masa Depan
- 31 Jul 2026 16:59 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Hari masih pagi, tapi puluhan pasien sudah mengantre di poli jiwa Rumah Sakit Jiwa Prof.Dr.M.Ildrem, Jalan Letjen Jamin Ginting, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Senin 27 Juli 2026. Beberapa orang duduk tenang menunggu panggilan. Ada juga yang berjalan mondar-mandir untuk membunuh jenuh. Sebagian dari mereka tampak berusia muda.
Psikiater di RSJ Prof. Ildrem, dr Ferdinan Leo Sianturi M.Ked (KJ), Sp.KJ, mengatakan jumlah pasien yang mengalami gangguan kejiwaan atau kesehatan mental cenderung mengalami peningkatan. Dalam sehari, ada sekitar 120 pasien rawat jalan berobat di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tersebut, dan sebagian masih berusia muda.
"Belakangan ini ada beberapa yang muda. Bahkan ada anak-anak usia di bawah 17 tahun, ada yang 15 tahun," ujarnya, Senin siang.
Leo mengungkapkan beberapa penyebab pasien mengalami gangguan kejiwaan atau kesehatan mental. Selain genetik, tekanan pendidikan dan pekerjaan juga menyebabkan pasien berusia muda menderita penyakit mental.
"Ada yang merasa tidak mampu mengikuti pelajaran, tekanan dari teman-teman dan dosen. Yang kedua, belakangan ini masalah gangguan pengendalian impuls seperti main gadget berjam-jam, game online, bahkan judi online," ujarnya.

Leo mengakui sebagian besar pasien yang memeriksakan diri ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat, sehingga membutuhkan penanganan serius dari dokter spesialis jiwa atau psikiater, dan harus mengonsumsi obat. Keterlambatan pasien memeriksakan diri, menurut Leo, karena ketidaktahuan informasi tentang gangguan jiwa. Masyarakat menganggap sesuatu yang aneh pada masa awal gangguan merupakan hal biasa, seperti kurang tidur.
"Di awal-awal itu dianggap biasa, mungkin karena banyak masalah, tapi lama-lama terlihat berbeda. Bahkan pertama kali dibawa ke ustaz, pendeta, atau ke dukun karena dianggap kemasukan roh," kata Leo tersenyum.
Leo mengingatkan generasi muda, terutama orang tua untuk lebih peka melihat kondisi anaknya. Ia menuturkan perubahan perilaku harus menjadi warning gejala awal gangguan mental.
"Misalnya mengurung diri, malas mandi, atau tidurnya terganggu, tersentak-sentak, dan berlangsung lama bisa berbulan-bulan. Kalau di pendidikan biasanya malas kuliah untuk perempuan. Kalau laki-laki cenderung ke pergaulan, seperti penggunaan narkoba atau judi online, game online, dan dia tidak bisa mengendalikan," katanya.
Oleh karena itu, Leo mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak muda dan orang tua untuk segera ke rumah sakit bila menemukan adanya perubahan perilaku. Jika kondisinya masih ringan, pasien dapat berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan penyelesaian masalah atau problem solving.
Leo menegaskan masyarakat tidak perlu takut mendapat stigma negatif karena berobat ke rumah sakit jiwa. Begitu pula dengan biaya, sebab gangguan atau penyakit mental dijamin BPJS Kesehatan.
"Kalau di sini semuanya diterima, termasuk BPJS, dan UHC pemerintah daerah," ucapnya.
Dukungan BPJS Kesehatan
Pukul 02.00 WIB dini hari, Dika (bukan nama sebenarnya) gelisah karena tidak dapat memejamkan mata. Berkali-kali mencoba berbaring, kantuk tak kunjung menyergapnya.
Awalnya ia mengira gangguan tidur yang dialaminya adalah hal biasa. Namun sudah satu minggu berlalu, kondisinya tidak berubah. Pria berusia 20 tahun ini lelah. Ia pun memeriksakan diri ke puskesmas. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kota Medan ini kemudian dirujuk ke rumah sakit jiwa untuk bertemu psikiater.
Semula ia ragu. Stigma negatif bagi orang yang berobat ke rumah sakit jiwa menghentikan langkahnya. Namun gangguan tidur kronis yang ia derita sangat menyiksa.
"Saya didiagnosa menderita disorders of excessive somnolence (hypersomnias). Jadi saya harus minum obat," ujarnya.

Peristiwa itu sudah hampir setahun berlalu. Dika hingga kini masih rutin mengonsumsi obat. Ia sama sekali tidak mengeluarkan biaya, karena semua pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan.
"Sangat terbantu sekali. Kalau tidak ditanggung BPJS Kesehatan, berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk obat rutin ini," ucapnya.
Menurutnya, alur layanan juga tidak rumit. Bahkan ia beberapa kali harus pindah fasilitas kesehatan dari kampung halamannya di Asahan ke Kota Medan untuk menempuh pendidikan.
"Kalau di kampung saya ambil obatnya di rumah sakit ibu kota kabupaten. Begitu ke Medan, saya pindah ke rumah sakit di sini," katanya.
Kesadaran Masyarakat Meningkat
Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Umum, dan Komunikasi (SDMUK) BPJS Kesehatan Wilayah I, Iwan Adriady, mengatakan tren pemanfaatan layanan kesehatan jiwa oleh peserta Program JKN terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini mencerminkan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi kesehatan jiwanya, serta semakin baiknya akses terhadap layanan kesehatan melalui Program JKN.
Di Provinsi Sumatera Utara, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 242.737 kunjungan pelayanan kesehatan jiwa di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Layanan ini dimanfaatkan oleh 33.379 peserta JKN.
"Data tersebut menunjukkan bahwa layanan kesehatan jiwa telah menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan yang diakses masyarakat. Sekaligus mencerminkan bahwa peserta JKN semakin percaya untuk memanfaatkan layanan kesehatan jiwa sesuai kebutuhan medisnya," ujarnya, Kamis 30 Juli 2026.

Ia menjelaskan, Program JKN menjamin pelayanan kesehatan jiwa sesuai indikasi medis dan ketentuan yang berlaku. Layanan yang dijamin meliputi pemeriksaan oleh tenaga kesehatan, konsultasi dengan dokter, pemberian terapi dan obat-obatan yang ditanggung, hingga kontrol rutin sesuai kebutuhan medis peserta.
Alur pelayanan diawali dengan peserta mengakses Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat dirinya terdaftar. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan diperlukan penanganan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa atau pelayanan yang lebih komprehensif, peserta akan dirujuk ke FKRTL sesuai indikasi medis dan sistem rujukan yang berlaku.
"Dengan mekanisme tersebut, peserta dapat memperoleh pelayanan kesehatan jiwa secara berkesinambungan sesuai kebutuhan klinisnya," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....