Rupiah Menguat usai BI Tahan Suku Bunga, IHSG Tertekan

  • 19 Agt 2026 18:35 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan nilai tukar Rupiah menguat setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Penguatan Rupiah terjadi di tengah melemahnya imbal hasil US Treasury dan USD Index, sementara IHSG justru ditutup melemah akibat tekanan sentimen eksternal.

Gunawan mengatakan sesuai dengan ekspektasi pasar, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75 persen. Rupiah merespons kebijakan tersebut dengan ditutup menguat ke level Rp17.835 per dolar Amerika Serikat.

"Rupiah merespons kebijakan BI tersebut dengan ditutup menguat di level Rp17.835 per dolar AS, bersamaan dengan melemahnya imbal hasil US Treasury dan USD Index," ujar Gunawan, Rabu, 19 Agustus 2026.

Selama sesi perdagangan berlangsung, Rupiah bergerak dalam rentang yang relatif sempit, yakni Rp17.820 hingga Rp17.845 per dolar AS.

Berbeda dengan Rupiah, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tekanan. IHSG ditutup melemah 0,86 persen ke level 6.394,125 setelah bergerak dalam rentang 6.373 hingga 6.490.

Sejumlah emiten besar turut memberikan tekanan terhadap IHSG, di antaranya BMRI, ASII, ANTM, BUMI, hingga BRMS.

Menurut Gunawan, pelemahan IHSG terjadi sejalan dengan koreksi pada mayoritas bursa saham di Asia. Tekanan terhadap pasar saham juga semakin besar akibat memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan. Pada perdagangan sore, harga minyak mentah jenis Brent ditransaksikan di kisaran 92,2 dolar AS per barel.

Gunawan mengatakan kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk adanya rencana Iran menyerang aset AS di Eropa. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

"Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas, dengan potensi perang yang meluas ke negara lainnya," katanya.

Menurut Gunawan, eskalasi geopolitik yang semakin memburuk memberikan tekanan signifikan terhadap sektor keuangan. Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko tekanan inflasi ke depan.

Sementara itu, harga emas dunia bergerak relatif stabil di level 4.358 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,5 juta per gram.

Gunawan menilai stabilnya harga emas menunjukkan pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik serta arah pasar keuangan global di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....