IHSG Melemah, Rupiah Stabil setelah Cadangan Devisa Naik
- 07 Sep 2026 19:37 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan kinerja pasar keuangan domestik pada perdagangan Senin, 7 September 2026 bergerak beragam. IHSG ditutup melemah 0,25 persen di level 6.619,673 meski mayoritas bursa saham di Asia berakhir di zona hijau.
IHSG sempat menguat hingga level 6.667 dan berusaha bertahan di zona hijau selama sesi perdagangan pertama. Namun, pada sesi perdagangan kedua, IHSG berbalik arah dan konsisten berada di zona merah hingga penutupan.
Sementara itu, mata uang Rupiah yang sempat melemah pada sesi perdagangan pertama justru berbalik menguat pada sesi kedua. Rupiah ditutup stabil di level 17.630 per US Dolar setelah sepanjang perdagangan bergerak dalam rentang 17.630 hingga 17.665 per US Dolar.
“Tekanan pada Rupiah mereda setelah rilis data cadangan devisa mengalami kenaikan menjadi 146,5 miliar US Dolar pada bulan Agustus,” ujar Gunawan.
Menurut Gunawan, kenaikan cadangan devisa tersebut mencerminkan kinerja Rupiah yang relatif lebih mampu melawan tekanan US Dolar selama Agustus. Selain itu, kenaikan cadangan devisa juga menunjukkan adanya aliran modal masuk atau capital inflow ke pasar keuangan domestik.
Salah satu indikator yang terlihat adalah kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang sempat melonjak ke kisaran 7,23 persen.
Sementara itu, pada produk pasar obligasi lainnya, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), imbal hasil atau yield bahkan telah mencapai 7,7 persen. Penguatan Rupiah belakangan ini tidak terlepas dari kenaikan imbal hasil surat utang Bank Indonesia dan pemerintah.
“Sejauh ini pasar obligasi masih mampu menyelamatkan Rupiah dari potensi tekanan besar seiring dengan meningkatnya tekanan geopolitik,” kata Gunawan.
Ia menjelaskan, tekanan geopolitik masih tercermin dari pergerakan harga minyak mentah dunia yang berkaitan dengan ketegangan di Selat Hormuz. Harga minyak mentah masih bertahan dalam rentang 91 hingga 96,7 US Dolar per barel.
Seiring dengan pergerakan harga minyak yang cenderung stabil, harga emas dunia justru ditransaksikan melemah ke level 4.393 US Dolar per ons troy atau sekitar 2,5 juta rupiah per gram.
Gunawan menyebut, pelemahan harga emas terjadi setelah adanya kenaikan serapan tenaga kerja di Amerika Serikat yang memicu ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan.
Secara keseluruhan, pasar keuangan domestik masih diwarnai pergerakan yang beragam, dengan Rupiah mampu bertahan stabil sementara IHSG mengalami koreksi terbatas di tengah dinamika pasar global dan sentimen geopolitik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....