IHSG Menguat 1,01 Persen, Rupiah Stabil di 17.625

  • 08 Sep 2026 20:08 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan IHSG konsisten berada di zona hijau sepanjang sesi perdagangan, meski mayoritas bursa saham di kawasan Asia mengalami pelemahan. IHSG ditransaksikan dalam rentang 6.636 hingga 6.696 dan ditutup menguat 1,01 persen di level 6.686,442 pada Selasa, 8 September 2026.

Menurut Gunawan, penguatan IHSG kembali menunjukkan anomali karena terjadi di tengah memburuknya kinerja mayoritas bursa saham Asia. Sejumlah emiten yang turut berkontribusi terhadap penguatan IHSG di antaranya BUMI, BBRI, BBCA, TLKM, BMRI serta sejumlah saham besar lainnya dari sektor energi.

Pasar saham di Asia mengalami tekanan seiring kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai level 98,6 US Dolar per barel. Harga minyak jenis Brent bahkan nyaris menyentuh level 100 US Dolar per barel di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

“Kondisi seperti ini membuat pasar saham akan sangat kesulitan untuk keluar dari tekanan, karena kenaikan harga minyak mentah akan memicu tekanan pada emiten di bursa,” ujar Gunawan.

Sementara, mata uang Rupiah juga terpantau menguat sepanjang sesi perdagangan. Rupiah ditutup di level 17.625 per US Dolar di tengah minimnya sentimen, sejalan dengan agenda ekonomi eksternal yang dinilai tidak terlalu mempengaruhi kinerja sektor keuangan.

Gunawan menyebut, rilis data perdagangan China justru lebih banyak direspons negatif oleh pasar saham di Asia. Namun, kondisi tersebut membuat mata uang Asia relatif bergerak menguat terhadap US Dolar.

“Kinerja USD Index yang melemah di bawah level 99 menjadi pemicu melemahnya US Dolar terhadap sejumlah mata uang di Asia,” kata Gunawan.

Menurutnya, persoalan defisit anggaran Amerika Serikat masih menjadi perhatian pelaku pasar, di tengah rencana pembelian kembali (buyback) US Treasury oleh Departemen Keuangan AS. Langkah tersebut menimbulkan spekulasi bahwa Bank Sentral AS atau The Fed berpotensi melakukan kebijakan serupa yang kerap disebut quantitative easing.

Di sisi lain, harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level 4.400 US Dolar per ons troy atau masih berada di kisaran 2,5 juta rupiah per gram.

Gunawan menambahkan, harga emas kembali dibayangi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed seiring dengan membaiknya data ketenagakerjaan AS.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....