IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Waspadai Kenaikan Harga Minyak
- 11 Agt 2026 20:57 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi memburuknya sentimen geopolitik serta kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan fiskal dan ekonomi domestik.
Gunawan mengatakan IHSG sempat menguat pada sesi pembukaan perdagangan, namun berbalik arah dan mayoritas ditransaksikan di zona merah hingga penutupan. IHSG bahkan sempat terpuruk ke level 6.230 sebelum akhirnya ditutup melemah 1,3 persen di level 6.267,88.
"IHSG sempat terpuruk hingga ke level 6.230 sebelum akhirnya ditutup melemah 1,3 persen di level 6.267,88. Seiring dengan pelemahan IHSG, mata uang rupiah juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS," ujar Gunawan.
Rupiah bertahan di zona merah sejak awal perdagangan hingga akhirnya ditutup melemah di level Rp18.020 per dolar Amerika Serikat.
Menurut Gunawan, tekanan terhadap pasar keuangan domestik semakin besar seiring dengan kembali meningkatnya harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya terhadap beban fiskal pemerintah.
"Harga minyak mentah dunia kembali naik, mengakibatkan pasar kembali mengkhawatirkan dampak dari kenaikan harga minyak mentah tersebut terhadap beban fiskal di tanah air," katanya.
Pada perdagangan sore, harga minyak mentah jenis Brent ditransaksikan di kisaran 87,3 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak tersebut terjadi di tengah belum membaiknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Gunawan menyebut negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari harapan. Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah Iran mengajukan enam syarat untuk kembali membuka Selat Hormuz yang dikhawatirkan tidak seluruhnya dapat dipenuhi oleh Amerika Serikat.
Selain sentimen geopolitik, tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga datang dari data penjualan ritel Indonesia. Gunawan mengatakan penjualan ritel pada Juni mengalami kontraksi sebesar 3 persen secara tahunan, yang menunjukkan adanya tekanan terhadap konsumsi masyarakat.
"Tekanan pada pasar keuangan domestik juga dipicu oleh memburuknya rilis data penjualan ritel tanah air. Pada bulan Juni, data penjualan ritel terkoreksi 3 persen secara tahunan yang menggambarkan tekanan pada belanja masyarakat," ujarnya.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati keputusan lembaga pemeringkat indeks saham seperti FTSE dan MSCI yang akan dirilis pada bulan ini. Ketidakpastian menjelang keputusan tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.
Sementara itu, harga emas dunia kembali terkoreksi ke kisaran 4.387 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,5 juta per gram. Gunawan menilai pelemahan harga emas terjadi di tengah dinamika sentimen geopolitik yang masih menjadi perhatian pasar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....